
”Sebab, apa yang aku lakukan, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan” (Rm. 7:15). Demikianlah jerit keputusasaan Paulus yang terekam dalam Kitab Roma.
Menarik disimak, keluhan ini bukanlah keluhan Paulus terhadap orang lain. Tidak. Paulus tidak menyalahkan orang lain. Ia juga tidak berniat mencari kambing hitam atas kegagalannya melakukan apa yang baik. Satu-satunya pribadi yang dipersalahkan Paulus adalah dirinya sendiri.
Kenyataan Dosa
Inilah kenyataan dosa. Dosa merupakan keadaan putusnya hubungan antara manusia dan Allah. Kala manusia memutuskan hubungan dengan Allah, dia cenderung melakukan apa yang jahat. Dan itulah yang dinyatakan Paulus pada kalimat-kalimat berikutnya.
”Saya tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang baik di dalam diri saya; yaitu di dalam tabiat saya sebagai manusia. Sebab ada keinginan pada saya untuk berbuat baik, tetapi saya tidak sanggup menjalankannya. Saya tidak melakukan yang baik yang saya ingin lakukan; sebaliknya saya melakukan hal-hal yang jahat, yang saya tidak mau lakukan” (Rm. 7:18-19, BIMK). Semakin berusaha melakukan yang baik, Paulus menemukan bahwa ia makin tidak mungkin melakukannya.
Itulah pengakuan Paulus. Ia ingin melakukan yang baik, tetapi yang jahatlah yang dilakukan. Inilah pengalaman hidup Paulus.
Sebelum menjadi rasul, Paulus adalah seorang yang gemar membunuh orang yang menurut anggapannya melawan hukum Yahudi. Menarik disimak bahwa Paulus, dengan alasan menyenangkan hati Tuhan, merasa boleh memperlakukan pengikut Kristus dengan sewenang-wenang. Namun, Paulus akhirnya menyadari bahwa semuanya itu hanyalah kesia-siaan belaka. Sekali lagi, dia ingin melakukan apa yang baik, ternyata yang dilakukannya jahat semata. Dan dia akhirnya mengaku: ”Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Rm. 7:24).
Dalam ayat tersebut, Paulus menyimpulkan dirinya sebagai manusia celaka dengan tanda seru. Itulah kenyataan manusia. Namun, Paulus melanjutkannya dengan kalimat tanya: ”Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”
Pengakuan dosa menjadi hal penting dalam hidup manusia. Namun, tak hanya berhenti di situ. Selanjutnya apakah kita mengharapkan pengampunan dosa atas pengakuan dosa itu. Pertanyaan Paulus bukanlah kalimat retorik, yang tidak membutuhkan jawaban. Tidak. Paulus sangat membutuhkan jawaban.
Persoalan besarnya ialah banyak orang yang berhenti pada pengakuan dosa! Merasa bersalah dan hanya sampai di situ. Dia tidak mohon pengampunan. Atau, dia tidak mohon pengampunan karena merasa tidak ada pribadi yang mengampuninya. Akhirnya, bunuh diri menjadi jalan keluarnya!
Tawaran Yesus
Itulah yang ditawarkan Yesus semasa hidup-Nya, hingga kini: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).
Kalimat ini kadang menimbulkan salah pengertian yang besar, seakan-akan Yesus memanggil semua orang yang menderita. Yang dimaksudkan di sini ialah orang Yahudi yang letih lesu karena Taurat. Ahli Taurat telah menetapkan 613 aturan yang harus diikuti setiap orang yang mau hidup menaati Tuhan.
Aturan kadang membuat kita ingin melanggarnya. Misalnya: ada tulisan ”Awas Cat Basah!” Tulisan itu malah membuat kita tidak mematuhinya. Tak jarang tangan kita menyentuhnya untuk membuktikan apakah basah atau tidak! Dosa cenderung membuat manusia melakukan kesalahan demi kesalahan. Aturan yang dimaksudkan untuk membuat kita hidup, malah sering kali kita langgar!
Perkataan Yesus di sini merupakan undangan kepada setiap orang yang merasa putus asa karena tidak mampu melakukan apa yang baik. Yesus memberi kelegaan. Kelegaan di sini Adalah pengikut Kristus tak perlu ribet dengan semua peraturan yang malah membuat kita malah merasa bersalah.
Kuk yang Menyenangkan
Namun, itu tidak berarti bahwa seorang Kristen boleh hidup liar. Yesus menyatakan bahwa pengikut-Nya harus hidup tertib. Perhatikanlah perkataan Yesus selanjutnya: ”Pikullah kuk yang Kupasang…. Sebab, kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 11:29-30).
Yesus memberikan kuk. Kuk biasanya ditaruh di atas pundak sapi agar mampu bekerja sesuai perintah tuannya. Dan kuk yang baik ialah kuk yang tidak mencekik leher sapi, tetapi kuk yang membuat sapi dapat bekerja tanpa rasa sakit.
Kuk merupakan kiasan untuk perintah Yesus. Perintah Yesus menyenangkan karena demi kehidupan dan bukan kematian manusia. Dan perintah Yesus memang cuma dua: mengasihi Allah dan manusia.
Mungkin kita bertanya: ”Apa mudahnya perintah macam begini? Bukankah ini juga merupakan beban yang berat?
De Heer menyatakan semuanya itu bergantung hati kita. Jika kita yakin bahwa perintah Yesus itu merupakan hal indah dan berguna bagi manusia, pastilah kita akan melakukannya dengan hati senang. Sebuah pepatah berbunyi: ”Kasih menjadikan setiap beban ringan.”
Sekadar contoh: Suami-isteri yang yang punya anak di bawah 3 tahun biasanya setiap dua jam dibangunkan oleh tangisan anaknya. Marahkah orang tua tersebut terhadap anaknya? Pasti tidak! Mengapa? Karena orang tua itu mengasihi anaknya.
Bahkan kemungkinan besar akan lebih mengasihi anaknya, jika mereka mengingat masa kecil mereka. Saat bayi pastilah mereka juga membuat orang tua begadang semalaman.
Kasih kepada sesama tak lagi jadi beban jika kita telah merasakan kasih Allah. Kasih kepada sesama menjadi keniscayaan saat kita mengingat kasih Allah. Dan itulah yang dimaksudkan Tuhan dengan perkataan: ”Sebab kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.”
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa