
Akulah TUHAN, Allahmu
”Akulah TUHAN, Allahmu”. Demikianlah refrein yang terdengar ketika Musa menyampaikan hukum antarmanusia kepada umat Israel (Im. 19:1-18). Kata ”TUHAN” merupakan terjemahan untuk nama diri ”Yahwe”.
Orang Israel sangat menghormati nama diri Yahwe. Ketika membaca Kitab Suci mendapatkan nama tersebut, mereka tidak akan mengucapkan ”Yahwe”, melainkan ”Adonai”, yang berarti Tuan! Jika para masyoret—penyalin kitab suci—menemukan nama Yahwe, mereka akan membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum menulis nama tersebut!
Kata ”Allahmu” menyiratkan ada hubungan kepemilikan antara Allah dan umat-Nya. Yahwe seakan mengingatkan—karena sering diulang—bahwa Dia Allah dan Israel makhluk-Nya. Yahwe sepertinya hendak mengingatkan umat bahwa Dialah yang menciptakan mereka!
Sejatinya hubungan antarmanusia berkait hubungan antara manusia dan Allah. Rusaknya hubungan antara manusia dan Allah mengakibatkan rusaknya hubungan antarmanusia. Dalam kisah jatuhnya manusia ke dalam dosa, kita menyaksikan bahwa putusnya hubungan antara manusia dan Allah membuat Adam menyalahkan Hawa, lalu Hawa menyalahkan ular. Manusia cenderung mencari kambing hitam. Dan ujung-ujungnya Iblis menjadi kambing hitam. Menariknya, Iblis tidak menyalahkan siapa-siapa!
Karena itu, pulihnya hubungan antarmanusia hanya mungkin terjadi tatkala hubungan antara Allah dan manusia pulih. Tak heran setelah prolog ”Hendaklah kamu kudus, sebab, Aku, TUHAN, Allahmu kudus” (Im. 19:1), mengalirlah semua ketetapan dalam hubungan antarmanusia.
Saat panen, demikian perintah Allah, ”Kebun anggurmu jangan kaupetik hasilnya untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu jangan kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan pendatang” (Im. 19:10).
Allah ingin umat-Nya berbagi. Meski semua tanaman itu milik sendiri, Allah mengingatkan adanya hak orang miskin. Mereka tak perlu mengambil semua miliknya karena Allah memberikan tanggung jawab terhadap orang-orang miskin.
Berkait buruh, Allah menegaskan, ”Janganlah kautahan upah seorang buruh upahan sampai esok hari” (Im. 19:13). Ada hak pekerja di sini. Dan pekerja wajib mendapat upahnya pada waktunya. Tak ada alasan untuk menahan-nahannya.
”Jangan kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta jangan kautaruh batu sandungan” (Im. 19:14). Umat Israel dilarang berbuat jahat meski orang itu tidak melihat atau tidak mendengar apa yang diperbuat.
Semua tindakan tadi mengingatkan Israel bahwa mereka harus berlaku kudus.”Sebab bait Allah itu kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian.” (1Kor. 3:17). Inilah panggilan manusia yang telah dimerdekakan Allah. Dan itulah yang membuat tema hut ke-81 NKRI, ”Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, tak lagi sekadar tema.
Merdeka!
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa