
”Buatlah hati hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat hatiku” (Mzm. 86:4).
Demikianlah doa Daud. Permohonannya menjadi penting dan bermakna karena bersukacita bukan perkara gampang. Hati manusia begitu rentan dan, bak cuaca, mudah berubah. Ketika sedang makan bersama kawan di resto mahal pun, hati kita bisa berubah ketika makanan yang terhidang terlampau asin. Terlebih untuk kejadian-kejadian yang menyakitkan hati.
Karena itu, Daud memohon kepada Allah. Sepertinya ia merasa tak bisa mengusahakan sukacita sendirian. Ia butuh pertolongan Allah. Sekali lagi karena Allahlah pencipta hati manusia.
Permohonan ini juga menjadi logis karena Daud telah mengangkat hatinya kepada Allah. Ini jugalah cara sederhana untuk meminta Allah menjadikan hatinya bersukacita. Mengangkat hati kepada Allah berarti pula membawa hati kepada Allah untuk diperbaiki.
Ketika diangkat kepada Allah, hati kita menjadi selevel dengan-Nya. Sehingga hati kita nyambung dengan hati Allah. Pada titik ini pula sukacita Allah menguasai hati kita. Saat sukacita Allah menguasai, dukacita kita pun sirna.
Di sini terlihat juga bahwa penting bagi kita untuk dikuasai oleh sukacita Allah—sukacita dari sudut pandang Allah. Sukacita dari sudut pandang manusia itu semu sifatnya. Sedangkan sukacita Allah itu, sebagaimana Allah, kekal dan mulia sifatnya.
Kembali ke contoh hidangan asin di resto mahal tadi. Hidangannya tentu masih asin, tidak berubah, namun kita diingatkan bahwa yang penting dalam makan bersama bukanlah makanan itu sendiri. Hakikat percakapan, kenyataan bahwa kita tidak sendirian, tentulah lebih penting. Belum lagi jika kita mengingat bahwa persahabatan itu sendiri merupakan karunia Allah. Hidangan asin pun bisa membuat kita lebih bersukacita.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa