👁️

”Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:31-32). Demikianlah makna kemerdekaan menurut Yesus Orang Nazaret.

Dalam BIMK tertera: ”Kalau kalian hidup menurut ajaran-Ku kalian sungguh-sungguh pengikut-Ku, maka kalian akan mengenal Allah yang benar, dan oleh karena itu kalian akan dibebaskan.” Pengenalan akan Allah akan memerdekakan setiap manusia. Benarkah?

Pengenalan Allah membuat manusia mampu mengenal dirinya sendiri. Selanjutnya pengenalan diri sendiri membuat manusia mampu menghargai orang lain. Ketika seseorang mengenal Allah ia menyadari bahwa hanya Allahlah yang layak disembah. Manusia tak perlu menjadi tuan atas manusia lainnya.

Penjajahan dimulai saat manusia merasa lebih hebat dan akhirnya merasa perlu menjadi tuan atas orang lain. Karena merasa lebih hebat, ia merasa berhak dilayani. Ketika setiap orang merasa berhak dilayani perang pun pecah.

Mesti diakui sikap kayak begini melekat erat dalam diri manusia berdosa. Dan di dalam Allah kita menjadi sadar bahwa manusia itu setara. Manusia lain adalah sesama—sama-sama ciptaan Allah.

Hidup dalam alam merdeka bukanlah hidup sebebas-bebasnya, tetapi merdeka untuk melakukan kehendak Allah. Sesungguhnya perlu perasaan bebas untuk melakukan kehendak Allah. Jika tidak, manusia hanya akan menjadi budak-budak rohani yang terpaksa melakukan perintah Allah. Keterpaksaan bukanlah tujuan Allah. Ketaatan semestinya merupakan tanda cinta akan Allah.  

Kalau setiap orang melakukan kehendak Allah, tak ada lagi penindasan. Yang ada hanyalah keinginan untuk saling memerdekakan. Pada titik ini semua orang sungguh-sungguh merasakan apa artinya merdeka.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa