Kita Salah Memberi Nama pada Perasaan: Jati dan Dewi

Persahabatan masa kecil masih menjadi kenangan indahku sampai detik ini. Entah mengapa kepalaku masih dipenuhi oleh kehangatan persahabatan masa kecil yang tenang, hangat, dan sederhana. Berbeda dengan saat ini ketika aku tinggal di kota orang, yang katanya pusat dari perputaran uang di Indonesia. Jakarta bagiku menyimpan juga makna tersendiri tanpa mengesampingkan persahabatan. Hidup di sini akhirnya harus bersahabat dengan pola acuh tak acuh karena mengingat segi apatis yang cukup bertumbuh kuat di kota ini. Tetapi, ya, di sinilah aku bekerja pada perusahaan start up untuk mulai menghidupi mimpi-mimpi masa kecilku, tentu bersama dengan teman-teman dulu.
Kalau bicara soal cita-cita sih aku dulu ingin menjadi seorang tentara, tetapi karena aku yang kurang pandai dalam berolahraga aku memutuskan melanjutkan hidup setelah kuliah ilmu komunikasi. Aku bekerja dalam bidang pemasaran di perusahaan start up ini. Terjebak? Lumayan, tapi bukan itu yang jadi kecemasanku sekarang ini.
Terkadang aku juga iri dengan teman-teman masa kecilku yang saat ini dapat mengejar mimpi-mimpi mereka dengan baik, ketimbang diriku. Tapi, apakah aku iri? Tentu bukan itu. Sebagian hidup yang aku habiskan sebagai warga kabupaten menekan diriku untuk mencapai mimpi-mimpi itu di sini. Apalagi kolega-kolega di kantorku yang datang dari kehidupan sosial-budaya yang berbeda denganku, membuatku bersusah payah untuk dapat menyesuaikan diri dengan mereka.
Suatu kali dalam kesendirian hidup di ibu kota aku pernah bertanya kepada Dewi, rekan kerjaku, ”Eh, Wi, gimana rasanya kerja di tempat yang bukan menjadi passionmu?”tanyaku dengan lembut di hari pertama kerja. ”Eh, Jat, lo kaga usah nanya gitu deh. Tuh urus keluarga lo sana, kaga usah nanyain gue, lagian di sini kita kan kerja harus bisa semua.” Dalam hatiku ketika Dewi menjawab ini: oh berarti dia sepenanggunggan denganku, setidak-tidaknya menjadi suatu kekuatan tersendiri untuk melewati riuhnya suasana kota dan pekerjaan ini.
O, iya, kebetulan Dewi, rekan kerjaku ini, ada dalam bidang yang sama denganku. Jadi kami biasa melakukan promosi-promosi ke berbagai tempat. Aku juga pernah mengatakan kepada Dewi, ”Wi, kalau kita emang sepenanggungan, kaga usah saingan ye, gue pengen kita maju bareng aja.” Dewi yang sedang menikmati es krim setelah kami melakukan promosi kala itu hanya mengangguk, ya cukup membuatku bingung apakah dia mengiyakan atau tidak, tetapi anggap saja dia dapat kupercaya.
Sebelum aku berangkat untuk merantau orang tuaku pernah bilang, ”Nak, konteks kota besar ini kamu harus berhati-hati memberikan kepercayaan, sebab di situ terkandung segala kelemahan dan celah di mana bisa saja itu menjadi batu sandungan bagimu, ati-ati sekarang banyak penipu.” Hem… ya cukup aku simpan baik-baik di dompetku karena toh aku bawa ke mana-mana foto-foto keluargaku. Ya… bahkan di ruang kerjaku di kantor juga kutempelkan semua support system-ku di meja itu agar aku siap menghadapi kerasnya dunia.
Dikejar target oleh bos sudah sering kami lewati apalagi mengingat kata-kata si bos, ”Dewi, Jati, ayo kejar KPI-mu. Jangan lengah! Inget kalian kalo mau bonus harus mengejar KPI itu secepatnya!” itulah bosku Pak Tulus.
Wiuw-wiuw-wiuw bak suara sirine ambulans suara Pak Tulus mendesak kami, bahkan tak memberi ruang untuk bernapas. Apalagi kalau namaku disebut bersama dengan Dewi, ada perasaan aneh yang selalu muncul di hatiku. Bukan takut, tapi semacam peringatan aku harus bangun seolah alarm pagi tidak bisa dimatikan. Seperti berjaga di garis awal lomba berenang, menunggu tembakan pistol untuk memulainya.
Hari-hari kerjaku terasa begitu cepat, aku harus berdesak-desakan di transjakarta untuk sampai ke kantor. Pagi menyeduh kopi, siang mengejar target, sore evaluasi, lalu pulang dan tak lupa untuk me time dengan diriku sendiri dan keluargaku. Inilah Jakarta, waktu terus berjalan seperti air yang terus mengalir, tak pernah ada jeda, beda ketika aku hidup di kabupaten yang slow living dan cenderung santai. Apalagi kalau harus berputar keliling Jakarta untuk promosi dengan Dewi, waktu tambah terasa sangat cepat karena Dewi cenderung supel dan banyak berbicara denganku ketika di sela-sela perjalanan apalagi makan siang.
Hal yang aku soroti ketika mengerjakan promosi dengan Dewi adalah dia memang benar Dewi seperti lagu Dewa 19. Tapi, bukan aku yang menghayati lagu itu, melainkan setiap klien yang kami jumpai. Mereka begitu tertarik dengan penampilan Dewi dan kepribadiannya. Diam-diam aku memperhatikan Dewi kalau sedang bersua dengan semua klien pria, ada hal aneh yang menjadi sorotan pria itu, bak si Dewi ini betul-betul bidadari. Tapi, buatku? hmmmm… Dewi ya tetep Dewi, temen kantor. Biasa aja lah.
Aku ingat aku pernah bertanya sama Dewi, ”Kayaknya banyak cowok demen ama lu, apalagi bagi si klien-klien tuh lu beneran bidadari dah”
”Ah, Jat, ga gitu konsepnya, lo kaga usah buat-buat kalimat itu deh” Dewi dengan muka yang kemerah-merahan, malu-malu gengsi kayak taneman putri malu. Disentuh dikit kuncup dia.
”Beneran weeee, banyak cowok waktu kita promosi pada ngliatinnya elo bukan gue. Secara penampilan lo tuh lebih oke, apalagi lo cewek,” jawabku dengan serius, tapi santai.
Ya begitulah, si Dewi, ga pernah mau mengakui kalau dirinya itu Cinderella, kayak di kisah-kisah percintaan Barat, beneran tuan puteri, tapi masih humble ya.
Kira-kira itu hari-hari yang terus kulewati bersama Dewi hingga suatu hari… Pak Tulus dengan sirenenya memanggil kami berdua ke ruangannya. Ruangan itu begitu dingin, terlalu dingin untuk ukuran Jakarta yang panas. Pendingin udara dinyalakan secara maksimal, seolah ingin membekukan berbagai niat.
”Dewi, Jati, silakan duduk. Inget ya kalian itu satu tim, tapi penilaian tetap secara individu. Siapa yang performa pekerjaannya paling bagus, dia yang dapat penghargaan, tentu saja lewat bonus-bonus seperti tertuang di kontrak.”
Aku melirik Dewi. Dia tetap tenang, wajahnya begitu datar, terlihat biasa saja. Aku mengangguk pelan, meski dalam hati kalimat Maju bareng mulai terasa hambar nan datar.
Sejak hari itu gejolak dalam hati ini seperti korslet. Suasana berubah halus, nyaris tak terlihat, tapi sungguh mencengang. Dewi akhirnya mulai bergerak sendiri. Mengambil klien yang sebelumnya kami bahas bersama, memberikan laporan lebih cepat, lebih rapi dari biasanya.
Hem… aku sungguh kecewa dan marah, kepercayaanku dibuang begitu saja. Membuatku seperti air yang baru saja direbus, panas sekali. Namun, aku tak dapat menyalahkannya. Dari sini mulailah bibit-bibit aku mulai berjarak dan tidak lagi percaya Dewi, bertegur sapa pun tidak. Aku tidak mau melihatnya.
Aku merenungkan kota ini, yang mengajarkan bahwa bertahan hidup bersama tidak lagi menjadi sebuah tolok ukur sukses, tapi harus ”menang”.
Suatu pagi aku baru saja masuk ke kantor. Aku mendengar suara Pak Tulus yang tidak seperti suara sirene. Kali ini suara semarak kegembiraan bak suara kembang api.
”Eh, Wi, selamat ya, kamu berhasil membuat ide pemasaran yang bagus.”
Sebentar.
Heummm… aku ingat dengan ide itu!
Terdengar familiar dan tak asing bagiku. Aku meletakkan kopi kesukaanku, dan teringat bahwa diskusi ini pernah aku lakukan di halte bus transjakarta dengan Dewi sebelum kami dipanggil Pak Tulus mengenai pencapaian individu. Dalam diskusi itu aku memberikan usulan ide tentang pendekatan komunitas, narasi lokal, dan empati sebagai strategi.
Aku langsung menatap Dewi, dia hanya tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Saat istirahat makan siang, aku memberanikan diri bertanya, ”Eh, Wi, tadi presentasi itu dari diskusi kita waktu itu, kan?” tanyaku polos.
Sambil makan Dewi menjawab, ”Iyalah, kita kan satu tim”
Bener sih Dewi bilang gitu. Tapi, ada satu nada yang tidak bisa kuabaikan, yang membuatku sadar soal ”satu tim” itu, di kepalaku terasa kian berbeda.
Malam itu aku pulang larut ke kosan. Kamar sempit dengan hiasan seadanya menyambutku dengan sunyi. Aku duduk di tepi kasur, melihat kembali foto keluargaku yang kian jauh. Aku bertanya pada diriku dalam sunyi, ”Apakah aku terlalu polos?” atau kota ini memang tidak memberi ruang bagi orang-orang yang ingin berjalan bersama?”
Aku semakin kesal dengan diriku, Dewi, dan pekerjaan ini. Semua menekanku semalaman suntuk hingga aku tak merasa kantuk. Dewi, pribadi yang tegar tengkuk hingga aku sulit menggapainya, dan aku mulai semakin membencinya perlahan, tapi pasti.
Bersambung….
Josse | Sobat Media – Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Foto: Freepik