BENGONG: Kemewahan Kecil di Dunia yang Tak Pernah Diam

Bengong sering dianggap sepele, bahkan dicap sebagai tanda tidak produktif. Padahal, justru dalam bengong itulah sesuatu yang penting sedang terjadi di dalam pikiran kita. Dulu, sebelum dunia digital seramai sekarang, bengong adalah hal yang biasa. Orang membaca, berbincang, atau diam saja tanpa rasa bersalah. Bengong bukan masalah, ia bagian dari hidup.
Sekarang, bengong terasa asing. Diam sebentar saja jadi tidak nyaman, seolah-olah kita harus selalu terlihat sibuk. Saya sering naik kereta saat pergi bekerja, dan hampir semua orang menatap handphone, menunggu, duduk, bahkan berdiri di dalam kereta pun tetap scrolling. Sangat jarang yang sekadar duduk diam atau melihat ke luar jendela. Seolah-olah bengong harus dihindari, padahal mungkin justru itulah yang kita butuhkan.
Seorang ilmuwan otak dan perilaku manusia, Assoc Prof. dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D. mengatakan bahwa bengong, membiarkan pikiran mengembara adalah ruang lahirnya ide. Saat kita berhenti sejenak, otak tidak mati, tetapi bekerja lebih dalam, menghubungkan pengalaman, bacaan, dan pikiran. Sebaliknya, kebiasaan melihat handphone tanpa henti justru menguras energi otak. Kita cepat lelah karena pikiran terus dipaksa aktif tanpa jeda.
Karena itu, bengong menjadi sangat berharga di era digital ini. Dalam bengong, kita menyerap, mengendapkan, dan merangkai kembali hidup kita. Ide tidak muncul dari kehampaan, tetapi tanpa bengong, semua hanya lewat tanpa makna.
Jadi, bengonglah sesekali di kereta, di rumah, atau di taman. Bukan karena tidak punya kegiatan, tetapi karena kita sedang memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja. Karena sering kali, justru saat bengong, kita menemukan sesuatu yang selama ini kita cari.
Repelita Tambunan | Sobat Media
Foto: AI