
Pernahkah kita menangis hanya karena menginginkan sesuatu?
Kala itu saya berusia sekitar lima tahun, saya berjalan pulang bersama ibu. Tinggal beberapa langkah lagi tiba di rumah. Tiba-tiba muncul keinginan untuk digendong. Saya pun merajuk, bahkan pura-pura menangis agar keinginan saya dituruti. Namun, reaksi ibu saya tidak seperti yang saya bayangkan. Ibu hanya diam. Tidak marah. Tidak membentak. Saya tidak digendong. Saya tetap diminta berjalan.
Sejenak saya terdiam. Sedih… karena tangisan saya seakan tidak berarti apa-apa. Dan saat itu saya mulai menyadari—tangisan saya tidak bisa menjadi ”senjata” untuk meluluskan keinginan saya.
Beberapa waktu berselang saya tersadar… saya sedang dididik. Belajar untuk mandiri, belajar untuk tidak menyerah, dan belajar untuk tidak menggunakan cara apa pun demi mendapatkan keinginan diri.
Sederhana, tapi dalam. Tidak semua keinginan dapat terpenuhi, terlebih dengan cara yang dibuat-buat. Dan sampai sekarang saya masih mengingatnya, Ibu. Didikanmu yang sederhana, tetapi tegas membentuk saya menjadi pribadi yang berusaha menjalani segala sesuatu dengan tulus dan apa adanya.
Pada akhirnya, bukan tangisan yang membawa kita melangkah, melainkan ketulusan dalam menjalani proses. Kadang, yang tidak dituruti… justru yang paling membentuk kita.
Yunia Handayani | Sobat Media – Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Foto: Unsplash/ Arwan Sutanto