
Bunga matahari (Helianthus Annuus) dikenal sebagai tanaman yang tampak selalu mengikuti pergerakan matahari dari timur ke barat sepanjang siang hari. Fenomena ini disebut heliotropisme (heliotropism), yaitu kemampuan organ tumbuhan mengubah arah pertumbuhannya sebagai respons terhadap posisi matahari. Namun, kemampuan ini hanya dimiliki oleh bunga matahari yang masih muda. Ketika bunga telah mekar sempurna dan mencapai kematangan, gerakan tersebut berhenti, dan bunga akan menetap menghadap ke arah timur, arah terbitnya matahari (Vandenbrink et al., 2014; Atamian et al., 2016).
Gerakan mengikuti matahari bukanlah karena bunga ”berputar” secara aktif, melainkan karena batangnya mengalami pertumbuhan yang berbeda pada kedua sisinya. Pada siang hari perbedaan laju pertumbuhan ini membuat bunga mengikuti perjalanan matahari, sedangkan pada malam hari batang perlahan kembali menghadap ke timur sebagai persiapan menyambut cahaya pagi berikutnya (Atamian et al., 2016; Brooks et al., 2023).
Menariknya, ketika bunga matahari telah dewasa, ia tidak lagi mengikuti pergerakan matahari. Namun, setiap pagi ia tetap menghadap ke timur, tempat pertama kali cahaya datang. Seolah-olah seluruh hidupnya memiliki satu orientasi: menyambut terang.
Demikian pula kehidupan orang percaya. Kedewasaan rohani bukan berarti kita tidak lagi menghadapi pergumulan, melainkan hati kita semakin mantap tertuju kepada Kristus, Sang Terang dunia (Yoh. 8:12). Bunga matahari tidak pernah mengubah arah matahari, tetapi arah hadapnya menentukan terang yang diterimanya. Demikian pula kita tidak selalu dapat mengubah keadaan hidup, tetapi kita dapat memilih mengarahkan hati kepada Kristus. Saat hati tertuju kepada-Nya, kasih karunia-Nya mengubah ketakutan menjadi iman, keputusasaan menjadi pengharapan, dan kelemahan menjadi kekuatan untuk tetap setia.
Karena itu, pertanyaan terpenting setiap hari bukanlah, ”Apakah semua persoalanku sudah berubah?” melainkan, ”Ke mana hatiku menghadap?” Sebab hati yang terus menghadap kepada Kristus akan terus menerima terang-Nya. Dan orang yang hidup dalam terang Kristus bukan hanya diterangi, tetapi juga dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia (lih. Mat. 5:14-16).
Repelita Tambunan | Sobat Media
Foto: Unsplash/ Marina Reich