👁️

Ada yang mengejutkan ketika menghadiri Konser Asia Harpa Fiesta di UCC (University Cultural Centre), National University of Singapore pada Minggu, 21 Juni 2026, lagu ”Burung Kakak Tua” dan “Rasa Sayange”, yang ketika kecil sering saya nyanyikan, diperkenalkan oleh perwakilan Malaysia sebagai Malaysian folksong ’lagu rakyat Malaysia’.

Bukankah lagu ”Burung Kakak Tua” itu jelas lagu anak-anak Indonesia? Apalagi ketika sang dirigen dengan bangga menjelaskan isi lagu ”The Cockatoo”. Ada rasa tidak rela, dikatakan sebagai lagu Malaysia.

Mungkin karena serumpun, membuat banyak kesamaan antarnegara ini. Namun, tetap saja menurut saya lagu tersebut berasal dari Indonesia. Masih terkenang lagu ”Rasa Sayange” dari Maluku yang menjadi salah satu lagu andalan saya ketika ada pengambilan nilai menyanyikan lagu tradisional semasa SD, karena liriknya mudah diingat dibandingkan lagu-lagu lain (misalnya ”Apuse” dari Irian Jaya, ”Gambang Suling” dari Jawa, dsb.). Sehingga ketika ajakan untuk menikmati lagu tersebut dengan bertepuk tangan diberikan, saya sangat berat untuk menggerakkan tangan seperti penonton lainnya.

Namun, tak lama berselang, Nusantara Harp Ensemble dari Indonesia yang dipimpin Heidy Awuy, membawakan lagu ”Kicir-Kicir” dan ”Jali-Jali”. Merasa bangga dengan lagu Betawi yang berkumandang, permainan mereka apik dan artistik. Saya pun memberikan applaus dengan bertepuk tangan sekencang-kencangnya setelah penampilan mereka.

Rupanya, di tengah hiruk pikuk kesibukan dan rutinitas serta kebisingan dunia atas ketidakadilan, rasa sayange atas negeri ini tetap mengharu biru dalam dada.

Tjhia Yen Nie | Sobat Media

Foto: tyn

Categories: Tala