
Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Melaka ditempuh dua jam dengan bus. ”Suasananya mirip di Jawa,” komentar saya begitu turun dari bus. Dari stasiun bus, saya dan anak-anak ke hotel menggunakan Grab.
”Dari mane?” tanya si Abang Grab.
”Indonesia,” jawab anak sulung saya.
Mengetahui bahwa penumpangnya baru pertama kali ke Malaka, si Abang dengan semangat mempromosikan tempat wisata dan makanan yang harus kami coba. ”Asam pedas, cendol Melaka, jangan lupa pakai durian dan gula Melaka!”
Di tengah jalan menuju hotel terpampang spanduk besar: Peringatan Ulang Tahun ke-621 Pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Melaka. Saya jadi teringat Gang Lombok di Semarang, sebuah tempat yang terkenal dengan lumpianya. Jika kami ke Semarang, kami tidak pernah absen membeli lumpia di sini, dekat dengan Klenteng yang ada Patung Laksamana Cheng Ho. Rupanya Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming yang hidup sekitar 1371-1433, meninggalkan jejak kebudayaan di dua kota yang berbeda negara.

Menjelang sore kami menyusuri Jonker Street yang riuh dengan para pedagang dan turis. Berfoto di depan gereja tua peninggalan Belanda yang berwarna merah bata. Tidak lupa makan es cendol di pinggir sungai yang penuh dengan lampu. ”Bagaimana rasanya?” tanya seorang kawan yang saya kirimi foto. ”Ehm…, kayaknya sama seperti es cendol di pinggir jalan dekat gereja,” balas saya jujur. Memang tidak ada bedanya. Demikian juga dengan duriannya, sama seperti durian yang ada di toko buah di Tangerang.
Akhirnya, sampailah kami ke toko jajanan yang penuh dengan turis untuk membeli oleh-oleh. ”Gula melaka adalah oleh-oleh yang terkenal dari sini, Ma…,” anak bungsu saya menjelaskan. Dia bahkan mencari es krim gula melaka, yang katanya sangat terkenal. Saya melihat stoples artistik yang berisi gula. ”Kok sama seperti gula aren/gula jawa?” pikir saya. Saya pun mengambil tester sebelum membelinya untuk handai tolan di Indonesia. ”Jadi beli, Ma?” tanya anak saya. ”Enggak,” jawab saya. ”Ini di rumah banyak.”

Ternyata benar yang tertulis di dinding University Cultural Centre (NUS), Singapura, ”Everything has beauty, but not everyone sees it” (Asian proverb). Es cendol dan gula aren yang selama ini saya lihat biasa-biasa saja, ternyata bisa menjadi aset berharga bagi daerah lain.
Tjhia Yen Nie | Sobat Media
Foto: tyn