
SERAGAM, BERAGAM
Pernahkah kita memperhatikan sebuah upacara bendera?
Dari kejauhan semuanya tampak seragam. Putih dan merah berpadu rapi. Barisan berdiri tegak menghadap Sang Saka Merah Putih. Sulit membedakan siapa yang berasal dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, atau Jawa. Sejenak, semua terlihat sama.
Namun, ketika upacara usai, cerita-cerita itu kembali berwarna.
Ada yang pulang ke rumah dan menikmati rendang. Ada yang menunggu sepiring gudeg, coto makassar, papeda, kaledo, atau jagung bose. Di rumah mereka terdengar bahasa Sunda, Batak, Jawa, Minang, Bugis, Toraja, Dayak, Ambon, Dani, dan ratusan bahasa daerah lainnya. Mereka tumbuh dengan adat, lagu, tarian, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Bahkan cara mereka memandang kehidupan pun dibentuk oleh budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Indonesia memang tidak pernah dilahirkan dari kesamaan. Negeri ini justru bertumbuh di atas ribuan perbedaan yang saling berdampingan.
Karena itu, seragam sesungguhnya bukanlah alat untuk membuat semua orang menjadi sama. Seragam adalah pengingat bahwa kita memiliki rumah yang sama. Ia tidak menghapus warna, tetapi merangkul semua warna agar tetap indah dalam satu bingkai.
Bayangkan jika seluruh bunga di taman memiliki warna yang sama. Mungkin taman itu tetap rapi, tetapi kehilangan pesonanya. Keindahan justru lahir ketika merah, kuning, putih, ungu, dan biru mekar berdampingan. Begitu pula Indonesia. Keberagaman bukan ancaman yang harus diseragamkan, melainkan anugerah yang harus dirawat.
Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan, seragam Merah Putih mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi mendalam: kita boleh berbeda dalam banyak hal, tetapi tidak boleh kehilangan rasa sebagai sesama anak bangsa.
Mungkin itulah makna paling indah dari sebuah seragam. Ia tidak meminta kita menjadi orang lain. Ia hanya mengajak kita berdiri sejajar, saling menghormati, dan berjalan ke arah yang sama. Sebab, kekuatan Indonesia bukan terletak pada banyaknya pulau, suku, atau bahasa, melainkan pada hati jutaan warganya yang memilih untuk berkata, ”Aku berbeda darimu, tetapi aku tetap bersamamu.” Ketika kalimat itu sungguh hidup dalam keseharian kita, Merah Putih tidak lagi hanya berkibar di tiang bendera, tetapi juga berkibar di dalam hati setiap anak Indonesia.
Repelita Tambunan | Sobat Media
Foto: Unsplash/ Syahrul Alamsyah Wahid