👁️

Empty Nest vs. Emptiness

Published by Admin on

Hari itu tujuan saya menghadiri seminar di gereja tentang senior pasutri sebenarnya hanya untuk menjaga stan penjualan buku. Kami berharap para peserta seminar membeli buku yang sedang dipromosikan untuk membantu penggalangan dana pembangunan gedung gereja. Namun, selama seminar berlangsung saya pun ikut mendengarkan. Meskipun acara ini ditujukan bagi pasangan yang telah menjalani usia perkawinan sekitar 30 tahun, sementara usia perkawinan saya baru memasuki tahun ke-26, saya merasa banyak hal yang dapat saya pelajari.

Memasuki 30 tahun usia perkawinan dan tetap berjalan bersama bukan hanya sebuah anugerah, tetapi juga buah dari perjuangan yang dilakukan setiap hari. Perkawinan yang bertahan lama bukanlah hasil kebetulan, melainkan hasil dari pilihan-pilihan kecil yang sengaja dibuat setiap hari untuk terus saling mengasihi, mengampuni, dan setia.

Pada fase ini umumnya anak-anak telah mengepakkan sayapnya. Mereka melanjutkan pendidikan, bekerja, atau membangun keluarga mereka sendiri. Inilah yang dikenal sebagai fenomena empty nest. Secara logis setelah anak-anak meninggalkan rumah, pasangan seharusnya memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati kebersamaan dan memberi perhatian penuh satu sama lain.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Semakin panjang perjalanan perkawinan, semakin banyak goresan yang pernah dialami bersama. Konflik-konflik yang tidak diselesaikan dengan baik dapat meninggalkan luka tersembunyi. Ketika selama bertahun-tahun perhatian lebih banyak tercurah kepada anak-anak, luka-luka itu mungkin tidak terlalu terasa. Tetapi, saat rumah menjadi lebih sepi, luka yang selama ini tersembunyi justru muncul ke permukaan. Tidak mengherankan jika belakangan ini fenomena grey divorce semakin sering terjadi.

Seminar itu juga membuat saya mengingat pengalaman pribadi. Ketika anak pertama saya berangkat kuliah, rasa kehilangan belum begitu terasa karena masih ada si bungsu di rumah. Namun, ketika si bungsu juga melanjutkan kuliah, saya merasakan perubahan besar. Tiba-tiba rutinitas yang selama bertahun-tahun memenuhi hari-hari saya menghilang.

Rasanya baru kemarin saya membangunkan mereka setiap pagi, menyiapkan sarapan, memasak, mengantar mereka ke sekolah, dan sering kali mengomel karena tidak boleh terlambat bangun. Kini, tidak ada lagi yang harus dibangunkan, tidak ada lagi yang harus diantar. Bahkan tidak ada lagi alasan yang ”memaksa” saya bangun pagi. Ada kekosongan yang pada awalnya membuat saya bertanya-tanya, ”Sekarang saya harus melakukan apa?”

Di situlah saya belajar bahwa empty nest tidak harus berubah menjadi emptiness. Melepaskan peran harian sebagai orang tua, melepaskan kekecewaan atau luka yang terkumpul puluhan tahun, melepaskan ekspektasi lama tentang pasangan, juga melepaskan mimpi yang tidak tercapai.

Kuncinya adalah kasih. Dan ternyata, mengasihi adalah sebuah pilihan, bukan suatu perasaan, karena Tuhan memberikan pilihan untuk mengasihi. Mengampuni bukanlah melupakan, tetapi memilih tidak membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan. Ketika kasih menjadi pusat kehidupan, empty nest bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari babak baru yang indah bersama Tuhan dan pasangan yang telah dipilih-Nya bagi kita.

Tjhia Yen Nie | Sobat Media

Foto: Unsplash/ Sandy Millar

Categories: Tala