👁️

Warisan Ketulusan Sahabat

Published by Admin on

Dia sosok yang ramah; senyum tulus selalu terlihat di wajahnya. Bertalenta, suara merdu sopran sering berkumandang saat ia melayani. Ia memiliki kecakapan dan kapasitas yang tinggi dalam melayani anak-anak neurodivergen. Lingkan Mangundap, sosok yang saya anggap sebagai kakak sekaligus sahabat.

Pertama kali mengenalnya saat saya mengikuti pelatihan guru untuk melayani anak-anak neurodivergen, sekitar 15 tahun lalu. Dia seorang praktisi dan pendiri Hope Learning Centre. Keinginan untuk belajar lebih dalam pun terpatri di hati. Suatu ketika saya dipercaya menjadi wali kelas bagi seorang siswa yang unik, aktif, dan selalu ingin tahu—yang pastinya memerlukan kesabaran serta hati guru yang lapang. Tidak hanya dia, beberapa siswa lain juga memiliki kecenderungan aktif bergerak dan mencari perhatian, sehingga kelas saya menjadi tantangan tersendiri bagi para guru.

Ingatan pun tertuju pada Lingkan Mangundap. Saya langsung menghubunginya melalui email. Semua tantangan saya curahkan dan saya meminta dukungannya. Pesan pun terbalas; kami bertemu dan berbagi cerita. Beberapa perkataannya melekat di hati sampai sekarang: ”Sebelum kamu menolong murid-muridmu, kamu harus ditolong terlebih dahulu. Saya akan ke kelasmu dan melakukan observasi agar dapat ditentukan langkah selanjutnya. Selain itu, sekarang kamu sedang diberi kepercayaan oleh Tuhan. Jadilah gembala yang baik dan ambillah setiap kesempatan atau tantangan, baik yang ada saat ini maupun yang akan datang. Percayalah, Tuhan pasti menolong dan turun tangan.”

Saat kunjungan dia datang menggunakan taksi dari Tanjung Priok, padahal sekolah saya berada di daerah Jakarta Barat—jarak yang cukup jauh. Namun, dia hadir dan memperhatikan dengan cermat semua siswa saya, termasuk satu siswa yang memerlukan pendampingan lebih. Dengan tulus dia memberikan masukan tentang cara melayani dengan hati beserta beberapa strategi praktis untuk saya dan sekolah. Menurutnya, hanya satu anak yang perlu terapi khusus, dan saya memerlukan pendamping di kelas agar semua anak mendapatkan fokus yang seimbang. Sebab, pada dasarnya semua anak memerlukan perhatian; apabila tidak mendapatkannya, hal itu akan berdampak pada perilaku mereka di kelas. Setahun kemudian, perubahan signifikan terjadi pada anak yang mengikuti terapi tersebut. Bahkan di kelas 6, dia menjadi salah satu siswa dengan nilai ujian nasional terbaik.

Beberapa tahun berselang kami tetap berkomunikasi dan saling mendukung dalam pelayanan. Saya sudah menganggapnya sebagai sosok teladan sekaligus sahabat. Februari lalu, dia telah kembali ke pangkuan Bapa karena kanker. Banyak orang yang merasa kehilangan, termasuk saya. Warisan darinya yang tak pernah lekang oleh waktu adalah pelayanan yang tulus dengan hati yang penuh kasih sayang, serta semangat tinggi yang pantang menyerah menghadapi keadaan. Kau ’kan selalu ada di hatiku, begitu pula warisanmu yang menjadi bagian dari karakterku sampai saat ini. Sejak saat itu setiap ada tantangan, tanggung jawab, atau pelayanan yang datang, saya berusaha semampunya untuk merespons dengan positif serta melakukannya dengan tulus dan sepenuh hati.

Yunia Handayani | Sobat Media

Foto: AI-assisted

Categories: Tala