
Bapakku Guru Terbaikku
Seperti apa sosok Bapak buatmu? Bagi saya, Bapak adalah guru terbaik dalam hidup. Penasaran ceritanya? Mari simak kisah berikut.
Pertama kali belajar menyetir mobil, saya langsung berhadapan dengan kontainer. Jantung berdetak keras. Meskipun hati tak menentu, tapi niat untuk bisa menyetir mobil tak pupus, bahkan semakin kuat. Pengalaman tersebut saya alami saat belajar di tempat kursus mobil. Gurunya cukup tegas dan galak, tapi disiplin. Latihan dilakukan seminggu sekali dan hanya beberapa kali saja. Bagi saya, waktu tersebut perlu ditambah agar lebih lancar. Berbekal motivasi belajar yang tinggi, saya berlatih dengan Bapak saya.
Bapak saya memulainya dengan memberi penjelasan filosofis tentang fungsi dari masing-masing bagian mobil. Saya jadi lebih memahaminya. Dimulai dengan langkah kecil perdana, yaitu berkeliling dengan gigi 1 sampai lancar, berhenti, lanjut, gigi 2, dan lanjut. Lapangan Banteng menjadi tempat latihan perdana saya. Secara bertahap Bapak melepas saya sendiri, setelah sebelumnya Bapak mendampingi saya di belakang saat pertama menyetir di tol.
Pernah satu kali, saat berlatih di sekitar rumah, ada motor di depan berjalan pelan, dan tiba-tiba melambat karena ada polisi tidur. Saya pun kaget karena belum mahir dalam menyeimbangkan gas dan rem. Saya menyenggol sedikit motor tersebut. Badan gemetar sebenarnya, tapi Bapak bilang, ”Namanya juga latihan, tidak apa-apa jika menyerempet sedikit dan melakukan kesalahan, terus berlatih, dan tenang saja sepanjang di dalam mobil kamu aman, meskipun ke depannya lebih berhati-hati ya.”
Pesan lain dari Bapak yang masih terekam: ”Ingat, di jalan juga ada sopan santunnya, jika ingin mendahului, beri isyarat dengan tepat dan pastikan situasinya aman.” Bapak juga mengajarkan pentingnya menggunakan lampu dim sebagai isyarat ketika hendak mendahului. Sampai sekarang saya masih mengingat dan berusaha tetap sopan di jalan, meskipun kadang masih kurang sabar jika ada orang yang kurang disiplin.
Sekarang menyetir mobil menjadi salah satu kegiatan yang saya sukai. Ternyata, pelajaran dari Bapak tidak hanya berguna di jalan raya, tetapi juga dalam kehidupan. Saya belajar untuk tidak takut mencoba, berani menghadapi kesalahan, terus melangkah dengan iman, serta menjaga sopan santun di mana pun berada.
Terima kasih, Bapak, bukan hanya karena telah mengajariku menyetir, tetapi juga karena telah menanamkan nilai-nilai kehidupan yang hingga kini membekas di hati.
Yunia Handayani | Sobat Media
Foto: AI-assisted