
Damai di Tengah Keberbedaan, Mungkinkah?
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju suatu kota. Di dalamnya, Tini dan Linda—dua teman lama—sedang mengobrol santai. Mereka berteman sudah belasan tahun, cukup nyambung, sefrekuensi, dan sering bekerja sama dalam pelayanan.
Perbincangan sederhana, tapi penuh makna pun terjadi, mereka berdiskusi tentang kepanitiaan baru di mana mereka berdua terlibat.
Tini: ”Linda, kamu tahu gak alasan Bu Ranti masuk dalam tim inti kepanitiaan?”
Linda: ”Ya, setahu saya dia cukup berkompeten dan baik dalam bekerja sama, ada apakah?”
Tini: ”O begitu ya, karena yang saya tahu, salah satu anggota panitia pernah merasa kurang nyaman dengan perkataan Bu Ranti.”
Linda: ”Sejujurnya, dia salah satu orang yang membentuk saya jadi seperti ini, dia salah satu mentor saya di kepanitiaan di gereja.”
Tini: ”……..” (diam dan melihat pemandangan di luar mobil)
Selang beberapa saat kemudian obrolan pun berlanjut, membahas hal yang berbeda.
Linda: ”Menurut saya Pak Anto kurang sesuai jadi ketua di tim kita, tidak banyak yang dia lakukan, malahan dia sepertinya jadi sering sakit, kasihan jika dia tetap lanjut di tim kita, sebaiknya orang lain saja.”
Tini: ”Menurut saya, dia sakit bukan karena di tim kita, dari dulu dia memang rentan sakit. Tapi pengalaman saya bekerja sama dengan dia beberapa kali, bagus Lin, dia banyak ide dan bijaksana. Masalahnya, tidak semua orang mendengar sarannya. Jadi menurut saya, yang perlu berubah adalah kita dulu, memiliki hati yang terbuka, mau belajar dan menerima masukan dari orang lain, karena jika tidak, siapa pun yang akan jadi ketua, perubahan tidak akan terjadi.”
Mereka terdiam beberapa saat, berusaha mencerna dan mengendapkan kedua percakapan tersebut.
Tini jadi teringat dengan tema bulan kebangsaan di gereja mereka, yaitu: ”Menghadirkan damai Sejahtera dalam Kebinekaan”. Ia pun mengaitkan percakapannya dengan Linda berdasarkan tema itu. Ya, mereka berbeda pendapat dan pandangan, tetapi Tini sadar dan paham bahwa mereka belajar satu dengan yang lain, mencerna dan mengendapkan pendapat masing-masing.
Tidak ada konflik. Tidak ada pertengkaran. Hanya diam. Hubungan mereka pun tetap baik sampai sekarang, dan Tini percaya, mereka mengambil makna dari semua percakapan ini.
Akhirnya, dalam keberagaman, kita dipanggil untuk saling menghargai, belajar satu dengan yang lain, dan memulainya dari diri sendiri, sambil meyakini bahwa siapa pun bisa jadi gandum ataupun ilalang. Bahkan, ilalang pun, bisa jadi gandum bagi kita, jika kita melihatnya dari sisi yang berbeda.
Yunia Handayani | Sobat Media
Foto: AI-assisted