
Warisan Iman
Dia tak pernah berharap untuk hamil lagi. Tiga anaknya sudah beranjak dewasa, dan ritme hidupnya mulai stabil. Namun, kehamilan yang datang tiba‑tiba membuatnya harus ”mereset” ulang kehidupannya. Kondisi plasenta previa yang terdiagnosis di akhir kehamilan, memaksanya untuk melahirkan dengan operasi sesar, dan kecemasan sempat menyelimuti. Tetapi begitu bayi itu lahir, dunianya berubah. Ia mencintai anak bungsunya sama seperti ketiga kakaknya.
Ketika si kecil didiagnosis TBC kelenjar di usia balita, ia rela mencarter angkot demi kontrol rutin ke rumah sakit, karena suaminya sedang tugas belajar di luar kota. Saat si kecil sulit makan, ia mencari cara dengan berkonsultasi, dan berjuang agar anaknya tetap sehat.
Perjalanan hidupnya kembali berubah ketika anak‑anak memasuki usia kuliah. Ia rela meninggalkan karier yang menjanjikan di kota asal demi ikut suami pindah ke Jakarta, agar keluarga tetap utuh dan anak‑anak mendapat figur ayah dan ibu yang lengkap.
Saat si bungsu masuk SMA dan merasa putus asa dengan pelajaran Matematika, ia tidak menyerah. Ia memotivasi dengan mendaftarkan anaknya ke bimbingan belajar, meski itu membuat si bungsu pulang malam dua kali seminggu. Dukungan itu membuat si bungsu tetap bersemangat mengejar cita‑cita.
Waktu berlalu, si bungsu beranjak dewasa, berumah tangga, dan akhirnya ia sendiri memasuki usia senja. Penyakit degeneratif yang lama dideritanya kian melemahkan tubuhnya. Ia berpulang tiga bulan sebelum melihat cucu pertama dari anak bungsunya lahir.
Si bungsu itu adalah saya. Wanita itu adalah ibu saya. Warisan yang ditinggalkannya bukan sekadar materi, melainkan teladan hidup penuh syukur kepada Tuhan. Putri saya lahir sehari setelah hari lahir neneknya. Setiap kali menatap wajah putri saya, saya teringat akan neneknya—warisan iman dan ketulusan yang akan saya teruskan kepada generasi berikutnya.
Yulius Anggana | Sobat Media
Foto: AI-Assisted