
LEBIH DARI PEMBERIAN
Pernahkah ada satu hadiah yang hingga hari ini masih Anda simpan? Bukan karena harganya mahal, bukan karena bentuknya mewah, tetapi karena setiap kali melihatnya, Anda teringat pada seseorang yang pernah memberikannya.
Mungkin itu secarik kartu ulang tahun dengan tulisan tangan yang sederhana. Mungkin sebuah buku yang di halaman depannya tertulis, “Semoga ini menguatkanmu.” Atau sebuah cangkir yang sebenarnya bisa dibeli di mana saja. Anehnya, benda-benda itu terasa berbeda. Seolah menyimpan detak hati seseorang yang pernah menggenggamnya sebelum sampai ke tangan kita.
Begitulah kasih bekerja.
Yang membuat sebuah pemberian menjadi istimewa sering kali bukan isi kotaknya, melainkan hati yang membungkusnya. Ada waktu yang disisihkan, ada perhatian yang diam-diam dipersiapkan, ada doa yang terucap lembut. Dan tanpa sadar, yang kita peluk bukan lagi bendanya, tetapi cinta yang dititipkan di dalamnya.
Sang pemberi selalu lebih berharga daripada pemberiannya.
Ada hadiah mahal yang akhirnya terlupakan di sudut lemari. Namun, ada hadiah sederhana yang bertahan puluhan tahun karena di dalamnya tersimpan sebuah nama, sebuah senyum, sebuah pelukan, atau tatapan mata yang berkata, ”Aku mengingatmu.”
Bukankah Tuhan juga sering mengajarkan hal itu kepada kita? Kadang kasih-Nya hadir melalui orang-orang yang datang pada waktu yang tepat. Seorang sahabat yang mengirim pesan ketika hati kita lelah. Seorang ibu yang menyelipkan makanan tanpa banyak kata. Seorang ayah yang diam-diam memastikan kita baik-baik saja. Mereka mungkin tidak membawa sesuatu yang besar, tetapi mereka membawa diri mereka sendiri. Dan ternyata, itulah hadiah yang paling kita rindukan.
Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang menatap hadiah lama di rumahnya, lalu tersenyum karena teringat Anda. Bukan karena benda itu masih baru, melainkan karena kasih yang pernah Anda titipkan di sana belum pernah pudar.
Sebab pada akhirnya, pita akan terlepas, kertas pembungkus akan dibuang, bahkan benda itu suatu hari bisa usang. Namun, ketulusan selalu punya cara untuk tetap tinggal. Ia hidup dalam kenangan, menghangatkan hati, dan berbisik pelan: yang paling berharga bukanlah apa yang diberikan, melainkan siapa yang dengan tulus memilih untuk memberikannya.
Repelita Tambunan | Sobat Media
Foto: Unsplash/ Kira auf der Heide