👁️

Lupa Berarti Tua?

Published by Admin on

Suatu sore saya dan Josie, ponakan saya yang berusia enam tahun, berjalan santai di suatu tempat wisata di Lembang. ”Bul-bul” merupakan panggilan sayang dari Josie untuk saya.

Josie: Bul-bul, tahu nggak usia Bunda berapa?

Saya: Memangnya ada apa, Josie?

Josie: Bunda sering lupa.

Saya: Terus, hubungannya apa usia dengan lupa?

Josie: Sepertinya Bunda sudah tua, jadinya sering lupa. Contohnya: tadi Bunda mencari tas yang ternyata ada di punggung.

Saya: Begitu, ya? Tapi Bulek juga kadang lupa. Apakah Bulek juga sudah tua?

Josie berpikir sambil senyum-senyum.

Kami melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian…

Josie: Bul-bul, kita ke arah mana kalau mau ke kamar kita?

Saya: Josie lupa, ya? … Berarti Josie…

Josie tertawa geli.

Keesokan paginya kami berjalan-jalan kembali, tetapi kali ini bersama kakak saya dan dua ponakan saya yang lain.

Bunda Josie: Btw, arah ke tempat hewan-hewan ke mana, ya?

Josie: Mmm… sebentar, ke mana, ya? Kalau nggak salah, lurus, terus belok kiri. Josie lupa.

Saya: Wah, Josie lupa, ya? Kemarin kita lewat sini. Berarti Bunda, Bulek, dan Josie sudah tua.

Josie: Bulek… lupa bukan berarti tua.

Kami tertawa. Saya langsung mengapresiasi cara berpikir ponakan saya.

”Josie pintar, ya. Jadi sekarang Josie sudah tahu, ya, lupa bukan berarti tua.”

Sejak saat itu kami sering bercanda tentang lupa dan tua.

Dengan memberi ruang bagi anak untuk menemukan sendiri makna dari sebuah peristiwa, kita membantunya belajar bahwa tidak semua hal dapat disamaratakan.

Catatan: Bul-bul = Bulek/tante

Yunia Handayani | Sobat Media

Foto: yh

Categories: Tala