”Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan saudara-saudara Yesus.” (Kis 1:14). Lukas mencatat para murid semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama dengan beberapa perempuan.

Mereka semua. Tentu tanpa Yudas. Menarik disimak bagaimana Lukas merasa perlu memerinci satu demi satu para murid itu. Perhatikanlah: Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.

Sesungguhnya sulit sekali membuat orang-orang yang begitu berbeda menjadi sehati. Di antaranya ada mantan nelayan (Petrus), mantan juragan kaum nelayan (Yohanes dan Yakobus), mantan pemungut cukai (Matius), juga tak ketinggalan kaum teroris (Simon orang Zelot)).

Satu-satunya hal yang tetap dapat mempersatukan mereka hanyalah perintah Tuhan, Firman-Nya. Mereka bersatu hati untuk tetap tinggal di Yerusalem sesuai perintah Yesus. Tanpa mereka sadari pula, sejatinya mereka tengah mewujudkan doa Tuhan Yesus sendiri: ”supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yoh 17:11).

Persekutuan Doa

Persekutuan sungguh terwujud dalam doa bersama. Itulah yang dilakukan para murid dalam menanti janji Allah. Menanti memang bukan pekerjaan ringan, kadang menyebalkan. Para rasul agaknya memahami hal itu. Sehingga mereka tidak hanya bertopang dagu dalam menunggu. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama. Orang Kristen abad XXI agaknya perlu meneladan para rasul. Ketika menunggu sebaiknya kita berdoa ketimbang melamun.

Dengan taat mereka bertekun dalam doa. Tanpa henti mereka berseru kepada Tuhan dan memohon supaya Bapa memenuhi janji-Nya (Kis 1:4). Ketekunan dalam berdoa ini merupakan persiapan terbaik bagi perayaan Pentakosta. Itu jugalah sebabnya beberapa gereja menyelenggarakan persekutuan doa sejak Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga hingga sehari sebelum Pentakosta.

Doa bersama itulah yang menyatukan mereka. Dan memang dalam doa persekutuan sungguh-sungguh terwujud nyata karena tak mungkin dua orang berseteru dapat bersekutu dalam doa. Bagaimanapun, pastilah dalam hati mereka terdapat perasaan yang tak enak. Sebab Allah mengetahui pikiran manusia. Aneh rasanya, jika kita menyembunyikan sesuatu dari Allah yang sungguh kita yakini memang mengenal diri kita apa adanya.

Tak hanya dalam suka, terlebih di dalam duka. Dan memang kita sama-sama tahu bahwa dalam sebuah persekutuan doa, kita sungguh-sungguh yakin dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kita tidak pernah sendirian—You ’ll never walk alone. Dan kenyataan itu—ketika kita menyaksikan ada sekelompok orang yang mendoakan kita—akan membuat kita sungguh-sungguh mampu menghadapi duka itu dengan lebih tabah.

Kehadiran Jasmani

Dalam bukunya Life Together, Bonhoeffer menyatakan: ”Kehadiran jasmani orang Kristen lainnya merupakan sumber sukacita dan kekuatan tak tertandingi bagi orang percaya.” Lagi pula, masih menurut Bonhoeffer, ”seorang Kristen memerlukan seorang Kristen lainnya yang mengucapkan firman Tuhan kepadanya. Ia memerlukannya berulang kali, ketika ia menjadi tidak yakin dan semangatnya mundur, karena ia tidak dapat menolong dirinya sendiri tanpa mengingkari kebenaran. Ia memerlukan saudaranya sebagai pembawa dan proklamator firman keselamatan ilahi itu. Ia memerlukan saudaranya semata-mata karena Yesus Kristus. Kenyataan Kristus di hatinya sendiri lebih lemah dari Kristus dalam perkataan saudaranya; hatinya sendiri tidak yakin, hati saudaranya yakin.”

Itu sungguh terlihat dalam nasihat Petrus kepada kepada para pengikut Kristus di Asia Kecil: ”Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu.” (1Ptr. 5:7). Tentunya, surat itu tak hanya ditujukan kepada orang per orang, tetapi juga persekutuan.

Nasihat yang diberikan dengan tulus sungguh-sungguh akan membangun sebuah persekutuan. Jika gereja-gereja Tuhan bertahan dalam penganiayaan, saya meyakini semua itu terjadi karena nasihat-nasihat rasuli semacam ini.

Sehingga persekutuan umat Tuhan akhirnya dapat beria-ria bersama dengan pemazmur: ”Bernyanyilah bagi Allah, bermazmurlah bagi nama-Nya, tinggikanlah Dia yang mengendarai awan! Nama-Nya ialah TUHAN; bersukarialah di hadapan-Nya!” (Mzm. 68:5).

Dan dalam persekutuan yang macam beginilah Roh Kudus hadir dan memperlengkapi kita semua!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa