Elia dan Janda di Sarfat

Kisah ”Elia dan Janda di Sarfat” (1Raj. 17:1-23) memperlihatkan bahwa Allah adalah Pribadi yang memelihara umat-Nya. Sewaktu air di sungai Kerit mengering, Allah berfirman: ”Pergi sekarang ke Sarfat di wilayah Sidon, dan tinggallah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda di sana untuk memberi engkau makan” (I Raj.17:9).
Allah Peduli
Allah peduli akan nasib Elia. Sungai Kerit telah mengering. Tak ada air yang bisa diminum. Dan Allah memberikan jalan keluar. Namun, jalannya tidak mudah.
Allah memang menjanjikan makanan kepada Elia, tetapi Elia harus menemui janda tersebut. Jika tetap tinggal di Sungai Kerit, ia tidak akan mendapatkan makanan.
Menarik disimak, janda itu ternyata bukan janda kaya. Ia sendiri sedang bergumul berkenaan dengan makanan. Ia mengaku: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti sedikit pun padaku, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, lalu aku akan pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku. Kami akan memakannya, lalu kami mati” (1Raj. 17:12).
Allah Melibatkan Manusia
Tampak jelas Allah melibatkan manusia. Allah tidak bekerja sendirian. Elia menggunakan kehendak bebasnya untuk menemui janda itu. Janda itu menggunakan kehendak bebasnya untuk memberi Elia roti.
Bisakah Elia menolak perintah Allah itu? Pasti bisa. Namun, ya aneh, bukankah ia hamba Allah? Bisakah Elia tidak ngotot meminta agar janda itu memberinya roti? Pasti bisa! Akan tetapi, Elia tidak melakukannya.
Bahkan, Elia seakan mewakili Allah dengan berjanji: ”Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.” (1Raj. 17:14).
Bisakah janda tersebut menolak memberikan roti? Pasti bisa! Bukankah Elia orang asing? Mengapa pula dia harus memberi makan kepada orang yang tidak dikenalnya? Wong ia sendiri sedang kekurangan makanan, masak menyia-nyiakan makanan untuk orang asing? Itukah yang dilakukannya? Tidak!
Berbagi dalam Kekurangan
Janda itu, meski dalam keadaan kurang, ternyata lebih suka membagikan makanannya untuk orang lain. Memang ia dalam keadaan kritis. Sebab, tak ada makanan untuk esok. Namun, ia masih mau memberi. Janda itu mengingatkan kita: Jangan tunggu berlebih, baru memberi!
Sejatinya janda itu mengambil risiko dengan memberi makan Elia karena ada harapan di sana. Bagaimanapun, Elia berjanji bahwa Allah Israel akan memberinya makan.
Pilihannya cuma dua. Pertama: Tidak memberi Elia makan. Artinya, nasibnya sudah jelas, besok enggak ada makanan lagi. Itu berarti janda dan anaknya tinggal menunggu ajal.
Kedua: memberi Elia makan. Kalau memberi Elia makan, juga ada dua kemungkinan: tetap mati, sebagaimana kalau tidak memberi makanan; atau tetap hidup, sebagaimana janji Elia.
Janda di Sarfat memilih yang kedua karena ada harapan di sana. Harapan memang belum terjadi. Dan janda itu menggantungkan dirinya pada harapan itu. Hasilnya: tepung dan minyak selalu tersedia.
Ketersediaan tepung dan minyak itu memang sehari demi sehari. Jadi, tidak langsung jatuh dari langit: satu kuintal tepung dan 100 liter minyak. Sehari demi sehari. Ya, Allah mencukupkan hidup mereka bertiga sehari demi sehari.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media