Kangen Rumah

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Kangen. Mungkin perasaan itulah yang menguasai Yesus kala pergi ke Yerusalem. Bagi orang Israel, Yerusalem bukan sembarang kota. Yerusalem berbeda dengan kota-kota lain karena Bait Allah terletak di sana. Kalau kita perhatikan mazmur-mazmur, maka banyak sekali mazmur ziarah yang dinyanyikan orang Israel sewaktu mengunjungi Yerusalem.

Ziarah ke Yerusalem menjadi penting mengingat lalu lintas pada masa itu tak selancar sekarang. Sehingga pergi ke Yerusalem sekali setahun sering hanya merupakan impian. Sekali lagi, karena Bait Allah terletak di sana. Rumah Allah ada di sana. Di Rumah Allah itu umat bisa beribadah kepada Allah mereka. Tak heran orang Israel dari segala tempat berbondong-bondong pergi ke Yerusalem.

Ya, rasa kangen itulah yang membuat Yesus singgah ke rumah-Nya. Ia hendak bersekutu dengan Bapa-Nya di sana. Tetapi, apa mau dikata suasana di Bait Allah tak lagi hening dan kudus. Rumah Allah tak beda dengan pasar karena disesaki dengan pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang.

Mengapa Yesus Marah?

Menyaksikan semuanya itu, penulis Injil mencatat: ”Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Allah dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata, ’Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.’”

Yesus marah menyaksikan kenyataan bahwa Bait Suci tak lagi suci. Namanya Bait, namun keberadaan para penjual binatang dan para penukar uang itu telah mencemarkan kesuciannya. Yesus pastilah memiliki gambaran ideal tentang rumah-Nya. Namun, gambaran ideal itu dihancurkan oleh konsep efisiensi.

Tujuan awal keberadaan para penjual binatang ialah menolong orang agar tidak perlu susah-susah membawa hewan kurban. Sekali lagi, kita perlu mengingat bahwa lalu lintas zaman itu tak selancar sekarang. Konsep ini tentu saja tak begitu salah.

Sekali lagi, tentulah bukan hal gampang membawa hewan kurban ke Yerusalem. Meski demikian, banyak orang melakukannya. Mereka sendiri telah memilih hewannya yang paling baik untuk dipersembahkan kepada Allah.

Nah, di sinilah persoalan muncul. Setiap hewan kurban perlu diperiksa. Petugas-petugas Bait Allah akan menentukan kelaikan hewan tersebut. Jika tidak, maka orang tersebut dianjurkan membeli hewan-hewan kurban bersertifikat yang dijual di Bait Allah. Repotnya jika petugas-petugas itu dengan sengaja tidak meloloskan hewan kurban. Dan harganya, sesuai prinsip ekonomi, pastilah lebih mahal dari harga pasar. Tindakan macam begini muncul dari pikiran dan hati yang dikuasai hikmat dunia. Dan Yesus pastilah tak senang dengan situasi macam begini. Rumah-Nya telah menjadi pasar.

Belum lagi dengan para penukar uang. Sekali lagi, mulanya memang untuk menolong umat Allah. Pada masa itu Bait Allah berhak mengeluarkan uang sendiri. Di Bait Allah, uang yang ada gambar kaisarnya tak boleh digunakan. Jika umat hendak memberi persembahan uang, mereka harus menggunakan uang kudus. Itulah uang resmi yang boleh digunakan di Bait Allah. Nah, Bait Allah membuka lembaga penukaran uang. Dan tentu saja ada uang jasa di balik pertukaran itu. Lagi-lagi uang. Ujung-ujungnya duit.

Kenyataan itu membuat Yesus gerah. Bait Allah tidak lagi menjadi tempat di mana orang dapat bertemu Allah dalam kekudusan. Orang memang bertemu, tetapi tidak untuk beribadah, melainkan untuk berjual beli. Dan lazimnya jual beli, mungkin saja terjadi penipuan di sana-sini. Lagi-lagi ini hikmat dunia.

Yang lebih membuat Yesus marah: baik umat maupun imam merasa nyaman-nyaman saja. Mereka merasa tak ada yang salah. Itu berarti mereka tak lagi menghormati kekudusan Allah. Karena itulah Yesus mengusir semua pedagang di Bait Allah itu.

Menarik disimak, para pemuka Yahudi malah menentang Yesus. Mereka bertanya soal legitimasi tindakan Yesus.

Tubuh Adalah Bait Allah

Pertanyaannya sekarang: Bagaimana dengan situasi kita saat ini? Pertama, baiklah kita bicara soal Bait Allah masa kini, yakni gereja.  Kita perlu bertanya: Apakah ada pribadi yang mencari keuntungan di gereja? Ataukah gereja sendiri malah mencari keuntungan? Keberadaan gereja memang tak lepas dari dana. Namun, pertanyaan yang layak diajukan ialah bagaimana cara penggalangan dana itu?

Penggalangan dana ialah mengajak orang untuk terlibat dalam karya Tuhan. Penggalangan dana bukanlah membuat orang berduit merasa bersalah karena ditodong untuk mengeluarkan uangnya. Bagaimana bisa dengan rela hati kalau seseorang merasa ditodong demi alasan rohani.  Sekali lagi, penggalangan dana ialah mengajak sebanyak mungkin orang terlibat dalam pekerjaan Tuhan.

Jika memang penggalangan dana itu dimaksudkan untuk karya Tuhan, semua cara penggalangan dana itu harus berdasarkan kekudusan. Jangan sampai gereja malah menjadi tempat pencucian uang! Jangan sampai juga gereja menutup mata atas hal itu!

Atau, mungkin kita perlu bertanya: ketika tim penggalangan dana terbentuk apakah orang-orang di dalamnya sungguh-sungguh menampakkan kekudusan hidup. Gereja sering dalam mencari anggota tim penggalangan lebih menonjolkan kepada orang yang ”pandai” dalam mencari uang ketimbang orang yang menampakkan hidup bersih. Tidak terlalu salah, tetapi juga tidak selamanya tepat.

Kedua, Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah Bait Allah. Pertanyaannya, normatif memang, tetapi perlu kita tanyakan: ”Apakah tubuh kita sungguh-sungguh telah menjadi Bait Allah?”. Bait Allah berarti tubuh kita adalah rumah kediaman Allah? Pertanyaannya: Apakah Allah sungguh-sungguh menjadi raja dalam hidup kita? Apakah kita sungguh-sungguh telah memelihara kekudusan!

Dalam bukunya Anugerah-anugerah Cinta, Ibu Teresa menulis: ”Engkau hanya perlu bertanya pada malam hari sebelum tidur, ‘Apa yang telah kuperbuat untuk Yesus pada hari ini? Apa yang telah kuperbuat demi Yesus pada hari ini? Apa yang telah kuperbuat bersama Yesus pada hari ini?’ Engkau hanya perlu mengamati kedua tanganmu. Inilah pemeriksaan hati nurani yang terbaik”.

Banyak orang senang bicara soal Roh Kudus. Banyak pula orang yang merasa mendapatkan kuasa dari Roh Kudus. Pertanyaan sebenarnya: apakah kita sungguh-sungguh hidup kudus. Jika tidak, kita pun perlu belajar dari Tuhan Yesus dengan mengusir kejahatan dari diri kita. Ingatlah: tubuh kita adalah Bait Allah.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa