Kebebasan Finansial

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan lema ”kebebasan finansial” sebagai ”kondisi keuangan seseorang yang ditandai dengan pendapatan yang telah mencukupi kebutuhan hidupnya dan bebas utang tanpa perlu bekerja aktif”.

Jika kita klik Google, ada begitu banyak penjelasan tentang kebebasan finansial. Salah satunya: ”Kebebasan finansial adalah kemampuan untuk hidup sesuai dengan keinginan Anda tanpa harus khawatir tentang masalah keuangan.” Atau dalam konsep Robert Kiyosaki: ”Biarlah uang yang bekerja untuk Anda”.

Di Google juga banyak langkah-langkah praktis bagaimana mencapai kebebasan finansial. Dengan semua itu, orang didorong untuk mencapai kebebasan finansial. Kebebasan finansial menjadi cita-cita tertinggi. Saat di mana orang bebas melakukan apa saja! Muaranya untuk menikmati hidup. Ujung-ujungnya kenikmatan.

Paulus mengingatkan: ”Namun, mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Sebab, akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka” (1Tim. 6:9-10).

Apa yang hendak dikatakan Paulus? Pertama, uang atau kekayaan merupakan sesuatu yang netral pada dirinya sendiri. Namun, menjadi tidak netral—malah berbahaya—tatkala uang menjadi tuan. Tak salah menjadi kaya, tetapi menjadi masalah tatkala kekayaan malah membuat kita terikat, bahkan bergantung total, padanya.

Serikat Yesuit mewanti-wanti agar para anggotanya lepas dari ”kelekatan”. Kelekatan pada sesuatu akan membuat orang menjauh dari Allah. Itulah yang ditekankan Paulus: ”dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman”.

Alkitab menyajikan beberapa contoh di sini, mulai dari yang klasik istri Lot, Yudas Iskariot, hingga Ananias dan Safira. Menurut Bunda Teresa, karena cinta akan uanglah Yudas menjual Yesus. Dan, lagi-lagi menurut Paulus, beberapa orang telah menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Kedua, uang sejatinya bukan sumber hidup manusia! Orang kebanyakan berpikir tak bisa hidup tanpa uang. Jika memang ada orang—mungkin juga diri kita—berpendapat bahwa uang adalah segala-galanya, perlulah kita pertanyakan lagi pernyataan tadi: benarkah orang tak bisa hidup tanpa uang? Ketika sendirian kehausan di puncak gunung, manusia butuh air. Dan uang tiada lagi gunanya.

Ketiga, uang hanya alat, bukan tujuan. Uang adalah sarana. Karena itu, kita perlu mengelolanya, menguasainya, dan bukan sebaliknya. Sering orang berpikir menguasai harta, namun yang sering terjadi banyak orang enggak bisa tidur karena memikirkan hartanya. Dia pikir menguasai, kenyataaanya dirinyalah yang dikuasai! Kayak Paman Gober dalam kisah-kisah Donald Bebek!

Menjadi kaya bukan soal, cinta uanglah yang merupakan masalah utama manusia. Persoalan utama bukanlah pada uang itu sendiri, tetapi pada cinta uang. Dan ketika seseorang cinta uang, pada titik itulah dia telah menjadi hamba uang.

Pada titik ini agaknya kita bisa mengubah makna kebebasan finansial dari ”kenikmatan tanpa batas” menjadi ”bebas mengelola kekayaan demi kebaikan sesama dan kemuliaan Tuhan”.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media