Memelihara Mata

Published by Admin on

Memiliki mata yang sehat adalah anugerah yang tak terhingga. Ketika mata sakit, maka segalanya menjadi rumit.  Secara fisik mata adalah indera penglihatan yang merupakan jalur komunikasi dengan dunia luar yang memengaruhi hati dan pikiran. Mata juga mengacu pada ”cara pandang” dalam menentukan sesuatu hal itu masalah atau berkat, yang membinasakan atau membawa pertumbuhan.

Kami pernah kehilangan buah-buah jeruk yang siap dipanen esok hari. Buah-buah ranum yang bergelantungan di dahan beberapa pohon jeruk itu habis diambil orang di malam hari sebelum hari panen tiba. Kami sangat kecewa, namun orang tua kami mengatakan, “Mereka lebih memerlukannya daripada kita. Biarkan saja, karena kalau kita terus kecewa dan menyalahkan pelakunya, jeruk-jeruk itu pun tidak kembali juga. Pohonnya masih ada, kita bisa pelihara lagi untuk panen berikutnya.”

Bersyukur orang tua kami memiliki cara pandang yang positif sehingga mengingatkan saya pada pesan seorang filsuf Yunani, yaitu Socrates bahwa hidup bukan tentang menjadi hakim bagi dunia, tetapi menjadi pembelajar yang rendah hati. Menyalahkan orang lain hanya akan menjauhkan kita dari proses pertumbuhan pribadi. Karena pada akhirnya, dunia akan menjadi lebih baik bukan karena kita menghakimi lebih keras, tetapi karena kita memperbaiki diri lebih dalam.

Sebagai manusia yang lemah, mata kita bisa dikuasai oleh kebencian, kedengkian, keserakahan, kepahitan, dan kejahatan yang memengaruhi cara pandang kita terhadap segala hal di sekitar kita. Namun, bersyukur kepada Tuhan karena dari hari ke hari Dia terus menginstal cara pandang kita. Mari kita memelihara mata dan cara pandang kita dengan mendengar perkataan Tuhan dan merespons panggilan-Nya sehingga cara pandang yang sehat dan damai sejahtera Tuhan itu menguasai hidup kita.

Yudi Hendro Astuti | Sobat Media – Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda

Foto: Unsplash/Anh Tuan

Categories: Tala