Memuliakan Allah, Mendahulukan Manusia

Published by Yoel M. Indrasmoro on

”Karena Yesus melihat bagaimana para undangan berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka” (Luk. 14:7). Demikianlah konteks perumpamaan Yesus.

Manusia memang makhluk pemilih. Ia diberi kemampuan oleh Sang Pencipta untuk memilih. Dan manusia cenderung memilih apa yang paling baik, enak, dan menguntungkan baginya. Itu pulalah yang disaksikan Yesus. Pertanyaannya: Apakah salah memilih tempat kehormatan?

Tahu Diri

Jawaban Sang Guru logis. Ketimbang malu karena ada undangan yang lebih terhormat, mending tak duduk di tempat kehormatan. Yesus menganjurkan kepada para murid agar mengambil tempat di belakang. Hanya dengan cara itu, mereka tidak akan dipermalukan. Jika tempat kehormatan disediakan bagi mereka, mereka akan mendapatkannya kelak. Sepertinya Yesus mengajarkan bahwa setiap murid-Nya seharusnya tahu diri. Bahkan, Yesus mengajak mereka bersikap low profile.

Berkait tahu diri, sejatinya ini merupakan salah satu kearifan Jawa. Tahu diri berarti mengenal keberadaan diri. Kalau seseorang mengenal dirinya, dia mampu menempatkan dirinya dalam tatanan masyarakat. Jika demikian, dia akan luput dari mempermalukan diri sendiri.

Tahu diri memang berkaitan erat dengan kepercayaan diri. Orang yang mengetahui siapa dirinya—tidak berpikir lebih tinggi atau lebih rendah mengenai dirinya—akan mampu bersikap wajar dalam masyarakat. Ia bersikap apa adanya. Ia tidak jatuh ke dalam ekstrem tinggi hati (sombong), juga tidak jatuh dalam ekstrem rendah diri (minder), tetapi dia tetap berada di tengah—rendah hati. Tahu diri akan membuat kita menjadi rendah hati.

Tahu diri akan membuat kita meyakini bahwa di atas langit masih ada langit, sehingga kita tak perlu mengambil sikap sombong. Karena, sekali lagi, di atas langit ada langit. Tahu diri juga akan membuat kita meyakini bahwa kita kemampuan, yang akhirnya memang tak perlu membuat kita minder. Dan orang yang memiliki kepercayaan diri memang tidak gila hormat. Jika memang demikian, yang paling aman adalah tetaplah tahu diri! Karena, sekali lagi, dari pengetahuan akan diri akan membuat kita percaya diri. Dan percaya diri akan membuat kita tak terlalu memusingkan pendapat orang lain tentang diri kita!

Ini pulalah yang perlu kita kembangkan dalam diri anak dan cucu kita. Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana anak-anak belajar untuk mengenal dirinya, tahu diri, eling, ingat siapa dirinya. Pengenalan diri akan menolong mereka memahami tempat mereka dalam masyarakat—bahasa Jawanya empan papan.

Menarik disimak bahwa filsafat Yunani pun menyatakan hal yang sama. Di atas pintu masuk kuil di Delphi Yunani terpampang tulisan ”gnothi se authon” ’Kenali Dirimu Sendiri’. Menurut hikayat itu merupakan perkataan Apollo, yang dikemukakan pula oleh Thales, dan menjadi basis ajaran Socrates. Dan kita pengetahuan Yunani berkembang karena pengenalan diri yang mantap. Tanpa kepercayaan diri maka kita bagai sekam yang ditiupkan angin.

Mengundang Orang

Selanjutnya Yesus bicara soal undang-mengundang. Dia menasihati para murid-Nya untuk tidak mengundang orang-orang kaya saja. ”Tetapi, apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu” (Luk. 14:13-14).

Jika dalam merespons undangan, Yesus mengajak kita untuk bersikap low profile; namun saat mengundang orang, Yesus mengajak kita untuk tidak membeda-bedakan kursi. Semua tempat adalah tempat kehormatan. Bahkan Yesus mengajak para murid-Nya untuk mengundang orang yang tak layak diundang.

Jelas di sini. Motivasinya adalah jangan mengharapkan imbalan dari semua kebaikan kita. Kalau sekadar mengharapkan imbalan, artinya ujung-ujungnya ya, keuntungan diri sendiri.

Lagi-lagi, Yesus mengajak para murid-Nya untuk mendahulukan orang lain. Mengapa? Karena mendahulukan orang lain merupakan wujud nyata dari keinginan kita untuk mengutamakan Allah. Artinya, bukan diri sendiri yang dimuliakan, tetapi kemuliaan Allahlah yang utama.

Itu jugalah yang dinyatakan penulis Ibrani: ”Janganlah kamu lalai untuk berbuat baik dan memberi bantuan, sebab kurban-kurban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah” (Ibr. 13:6). Inilah korban yang diperkenan Allah, yang menyenangkan hati-Nya!

Mengapa kita menyenangkan hati Allah? Jawabannya: Mengapa kita tidak menyenangkan Allah? Apa yang bisa dilakukan manusia tanpa Allah? Bukankah tanpa Allah kita memang bukan apa-apa? Dari manakah datangnya napas hidup itu? Bukankah kehidupan pun berasal dari Allah? Lalu, mengapa kita tidak menyenangkan-Nya?

Bahkan manusia tanpa Allah, cenderung menjadi serigala terhadap sesamanya (homo homini lupus est). Sejarah mencatat, manusia tanpa Allah akan cenderung menjadi tuan dan menganggap manusia lain sebagai budak. Manusia tanpa Allah cenderung mengingkari kemanusian dalam diri orang lain. Manusia tanpa Allah hanya akan membuahkan malapetaka.

Sebaliknya, manusia yang memuliakan Allah akan berusaha mendahulukan manusia lainlah. Ia berusaha menjadi berkat bagi manusia lainnya. Bukankah ini perintah Kristus sendiri?

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa