Mengendalikan Lidah

Pada awal tahun banyak orang membuat resolusi, yaitu komitmen atau hal yang menjadi pegangan ketika seseorang melangkah ke dalam fase kehidupan yang baru. Sayangnya lebih dari 50 persen resolusi itu ambyar dalam bulan pertama. Konon resolusi yang dibuat dengan cara menambahkan kebiasaan baik lebih bertahan lama dibandingkan dengan yang berisi larangan. Misalnya dari kebiasaan berjalan kaki kemudian ditambah dengan mengangkat beban. Dari kebiasaan mengonsumsi karbohidrat kemudian ditambah protein, sayur, dan buah. Penambahan kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten setiap hari ternyata lebih berhasil dibandingkan dengan melarang diri terhadap ini dan itu. Itu soal resolusi jasmani, lalu bagaimana dengan resolusi rohani kita?
Baru-baru ini di sebuah video saya menyaksikan mesin feller buncher bekerja. Mesin canggih berteknologi ini adalah gabungan antara gergaji mesin yang mampu menebang pohon dan pencengkeram yang mampu mengumpulkan batang-batang kayu. Alat berat ini sangat efisien karena mampu menebang lebih dari 100 batang kayu per jam dan mampu memotong kayu berdiameter hingga setengah meter dengan sangat cepat pada areal hutan tanaman, dan hanya dikendalikan oleh seorang operator. Mesin ini berdampak besar, baik dalam menolong pengelola hutan untuk pekerjaan konstruksi atau pekerjaan eksploitasi yang dilakukan oleh pihak lain.
Demikian juga dengan lidah, meskipun kecil lidah memiliki dampak yang besar. Lidah dapat mengeluarkan kata-kata berkat untuk membangun, maupun kutuk yang menghancurkan. Mengendalikan lidah itu tidak mudah karena yang terucap oleh lidah bergantung pada isi hati seseorang sehingga baik buruknya seseorang tergantung pada lidahnya.
Resolusi mengendalikan lidah akan berhasil tatkala kita memohon agar Tuhan memurnikan hati kita sehingga perkataan dari mulut kita berdampak positif serta menjadi berkat bagi sesama, dan melaluinya nama Tuhan dimuliakan.
Yudi Hendro Astuti | Sobat Media – Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Foto: Unsplash/Sebastian Unrau