2 Oktober 2022 | Sabda-Mu Abadi
(Kis. 8:9-25)
Kisah orang Kristen di Samaria mungkin sedikit membingungkan kita. Kita menyaksikan bagaimana orang-orang Samaria itu telah menjadi percaya kepada Kristus, tetapi belum menerima Roh Kudus. Kok bisa, percaya kepada Yesus, namun belum menerima Roh Kudus?
Bukankah kita bisa percaya karena dimampukan oleh Roh Kudus?
Harus diakui, kita tidak sepenuhnya paham dengan hal ini. Ada begitu banyak spekulasi. Bahkan, ada pemahaman bahwa orang yang dibaptis belum tentu menerima kuasa Roh Kudus sehingga perlu dibaptis ulang.
Sekali lagi, kita tidak begitu paham. Namun demikian, kita bisa mengambil kesimpulan umum bahwa baptisanâsebagaimana perintah Tuhan Yesus dalam Injil Matiusâharuslah âdalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudusâ. Sengaja menggunakan kata penghubung âdanâ dua kali. Sebab itulah yang tertulis dalam Injil Matius. Karena kadang gereja masa kini dalam formula baptisan hanya menggunakan satu kali kata penghubung âdanâ, sehingga menjadi âdalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudusâ. Formula macam begini, di samping tidak sesuai Injil Matius, memberi kesan adanya peringkat. Padahal Gereja Am mengakui bahwa Ketiga-Nya Esa. Dan dalam persekutuan Allah Tritunggal Ketiga-Nya saling menghargai!
Yang juga penting untuk dicatat, karunia Roh Kudus adalah semata-mata anugerah. Itu merupakan prerogatif Allah. Dan manusia tidak bisa menyuap Allah dengan uangnya, juga dengan kebaikannya. Simon berusaha menyuap Petrus dan Yohanes, dan Petrus langsung menukas, âBinasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.â
Ya, bagaimana mungkin kita menyuap Allah. Bukankah dia pemilik segala sesuatu?
Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media
Klik tautan di bawah ini untuk mendengarkan versi audio: