Anugerah Tuhan yang Turun dari Langit

”Bu… Yah… hujan!”
Suara Raisa terdengar dari dalam rumah. Ia berdiri di ambang pintu, wajahnya cemas. Di balkon ibu dan ayahnya masih duduk berdampingan memandang ke luar, ke arah langit yang mulai kelabu.
”Masuk dulu, Bu… nanti basah,” katanya lagi.
Ibu tersenyum, menoleh sebentar, lalu kembali mengulurkan telapak tangannya. Ayah melakukan hal yang sama. Mereka membiarkan tetes hujan pertama jatuh tepat di kulit mereka, dingin, nyata, dan hidup.
”Tidak apa-apa, Nak,” jawab ayah pelan.
”Kami ingin menyentuh hujan.”
Raisa terdiam. Baginya, hujan adalah alasan untuk menutup jendela dan berlindung. Namun, di hadapannya, orang tuanya justru duduk tenang, seakan sedang menerima sesuatu yang berharga.
Tetes demi tetes jatuh semakin rapat. Hujan itu benar-benar turun dari langit—bukan sekadar pemandangan, melainkan sesuatu yang bisa disentuh dan dirasakan. Air mengalir di telapak tangan ibu, menyusuri garis-garis halus yang dibentuk oleh waktu dan doa. Ayah menutup matanya sejenak, membiarkan hujan membasahi wajahnya.
Dalam diam itu, ayah teringat firman Tuhan:
”Sebab, seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, tetapi mengairi bumi…” (Yes. 55:10).
”Raisa,” kata ibu lembut,
”kita sering lupa bahwa ada berkat yang datang begitu saja dari langit.”
Raisa melangkah mendekat. Ayah menggeser kursinya sedikit. Dengan ragu Raisa mengulurkan tangannya. Saat hujan menyentuh kulitnya, ia tersenyum kecil—dingin, jujur, dan nyata. Tidak ada perantara. Tidak ada jarak.
Hujan itu turun bagi semua. Seperti kata Yesus, ”Ia menurunkan hujan bagi orang yang benar maupun orang yang tidak benar” (Mat. 5:45).
”Ini anugerah Tuhan,” kata ayah pelan.
”Bisa kita sentuh. Bisa kita syukuri.”
Di balkon kecil itu Raisa belajar bahwa Tuhan sering hadir lewat hal-hal sederhana, seperti hujan yang jatuh ke telapak tangan yang terbuka, mengajak manusia percaya dan bersyukur bersama.
Repelita Tambunan | Sobat Media
Foto: AI