Mengelola Pikiran
”Pikiran melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, dan karakter menciptakan nasib.”
”Pikiran melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, dan karakter menciptakan nasib.”
Bisa jadi kita merasa bisa menguasai uang, tetapi yang sangat mungkin terjadi kitalah yang dikuasainya, ketika itu iman sudah tak penting lagi.
Di banyak budaya modern kita diajarkan untuk waspada terhadap orang asing—dan itu tidak salah. Namun, dalam kebudayaan Batak, ada pelajaran lain yang tak kalah penting: kemampuan menemukan pertalian di tengah perbedaan.
Perempuan itu sungguh layak dalam mempersiapkan hari pekuburan Yesus. Dan menurut Yesus tindakannya itu akan senantiasa diingat.
Tingkat kesejahteraan penduduk ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan tingkat GDP.
Dalam konsep para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, mereka yang menangkap Yesus. Sedangkan dalam konsep Sang Guru, Ia menyerahkan diri-Nya untuk ditangkap.
Dengan tangannya orang dewasa mampu berkarya bahkan saat memasuki usia paruh baya mereka memiliki kecenderungan yang kuat untuk berkontribusi bagi kebermanfaatan dan kepedulian terhadap sesama, terlebih pada kesejahteraan generasi di bawahnya.
Waktu adalah kesempatan untuk berkarya! Apakah kita melakukan kehendak Allah saat datang “ketika” dalam hidup kita?
Hamba yang menerima satu talenta itu menyia-nyiakan kepercayaan tuannya. Tuannya memercayakan hartanya, tetapi dia sendiri merasa itu tetap harta tuannya.
”Jika kamu tidak bisa terbang, berlarilah. Jika kamu tidak bisa berlari, berjalanlah. Jika kamu tidak bisa berjalan, merangkaklah. Apa pun yang kamu lakukan, kamu harus terus bergerak maju.”
”Masuklah ke dalam sukacita tuanmu.” Jelas, sang tuan tidak mau bersukacita sendirian. Ia mau bersukacita bersama dengan hamba-hamba-Nya yang baik dan setia.