Cantik

Published by Yoel M. Indrasmoro on

”Memang hitam aku, tetapi cantik, hai Putri-putri Yerusalem, seperti kemah-kemah Kedar, seperti tirai-tirai Salomo” (Kid. 1:5).

Ini pengakuan diri. Yang bersumber pada kenyataan diri. Perempuan itu tidak menyembunyikan fakta. Ia tidak malu menyatakan kulitnya hitam. Tidak putih. Dan ia tidak berusaha memutihkannya.

Ia menyadari keberadaan diri. Mampu menerima diri apa adanya. Ia juga tidak berupaya menjadi orang lain. Pada titik inilah ia mampu menyatakan diri sebenarnya. Pada titik ini pulalah kepercayaan dirinya muncul.

Kepercayaan diri muncul saat manusia mampu menerima diri apa adanya. Sewaktu manusia sulit menerima keadaan dirinya, yang mencuat hanyalah rasa minder atau, sebaliknya, rasa sombong. Kepercayaan diri merupakan modal utama manusia.

Bagaimana mungkin memercayakan diri kita kepada seseorang yang tidak memercayai dirinya sendiri? Sebaliknya, kita tidak akan dapat memercayai sesama kalau kita sendiri tidak percaya kepada diri kita sendiri.

Rasa percaya diri dimulai saat kita menerima keberadaan diri kita apa adanya. Rasa percaya diri muncul saat kita mampu menerima kelemahan dan kekuatan diri. Rasa percaya diri hanya akan mencuat saat kita menerima kelemahan dan kekuatan diri kita secara wajar.

Bicara soal kelemahan diri, tak ada manusia sempurna. Karena tidak sempurna, kita butuh orang lain. Kita membutuhkan penolong yang akan melengkapi diri kita. Kalau enggak mau menerima kelemahan diri kita, bagaimana mungkin kita mengharapkan orang lain menerima kelemahan kita?

Yang juga penting, sewaktu mengetahui kelemahan kita, mudah pula bagi kita untuk mengetahui kekuatan kita. Teorinya demikian: Jika kita bisa melihat kelemahan diri kita secara wajar, tanpa merasa kecil, kita juga akan mudah melihat kekuatan kita, tanpa menjadi sombong.

Memahami dan menerima kekuatan diri sendiri akan membawa kita kepada kemampuan memahami dan menerima kekuatan orang lain. Kita tidak menjadi iri saat menyaksikan kekuatan orang lain karena kita pun memiliki kekuatan. Dalam cerita-cerita silat sering diperlihatkan bahwa orang besar akan melihat kebesaran dalam diri orang lain dan sebaliknya orang kerdil akan senantiasa melihat kelemahan orang lain.

Inilah yang diperlihatkan oleh perempuan dalam Kitab Kidung Agung tadi. Tidak hanya mengatakan dirinya hitam, tetapi dengan cepat dia mengatakan bahwa ia cantik. Ini bukan kesombongan. Ia tahu siapa dirinya dan menerimanya secara wajar.

Sejatinya orang yang memiliki kepercayaan diri memang lebih enak dipandang ketimbang seorang yang tidak memilikinya. Orang yang tidak percaya diri biasanya akan sulit bersikap apa adanya. Ia akan selalu memakai topeng agar orang lain tak melihat wajah sebenarnya. Dan akhirnya, kita menjadi sulit melihat wajah yang berseri. Yang ada hanyalah wajah siaga dan waspada karena takut ketahuan wajah aslinya.

Karena itu, bersikaplah wajar. Terimalah diri apa adanya. Ini bukan narsisme. Narsisme adalah penerimaan diri berlebihan sehingga tak lagi mampu melihat kelemahan diri. Belajarlah berkata seperti perempuan tadi: ”Memang Hitam Aku, tetapi Cantik!”

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media