
“Petrus pergi keluar dan menangisā¦.”
Itulah awal keberanian sejati Petrus. Keberanian itu pernah ada sebelumnya, ditanamkan padanya sejak lahir, tetapi ia harus digali dan dilepaskan dari kebanggaan palsu yang menutupinya. Petrus sampai saat itu dikuasai oleh rasa puas diri. Ia biasa menepuk dada, dia merasa lebih hebat dari para nelayan lainnya karena dipilih Yesus, sementara yang lain tidak. Dia merasa kuat, merasa kuat dan terhormat.
Kepercayaan dirinya hanya sebuah kesombongan. āBiarpun mereka menyangkal Engkau, aku sekali-kali tidakā (lih. Mat. 26:33). Tuhan menjawab, āEngkau akan menyangkal Aku tiga kali sebelum ayam jantan berkokokā (lih. Mat. 26:34). Akan tetapi, karena kesombongannya, dia malah berkata lebih nyaring, āMeskipun mereka membunuh aku, aku tak akan menyangkal Engkauā (lih. Mat. 26:35). Untunglah Tuhan tidak menjawab lagi. Capek diskusi dengan orang sombong, keras kepala. Begitu mungkin pikir Yesus.
Hanya beberapa jam saja setelah kejadian itu Petrus membiarkan seorang budak kecil perempuan membuatnya takut hingga ia menyangkal Tuhan dengan kutukan, āAku tidak kenal orang itu!ā. Dia menjawab dengan kasar. Kemudian ayam berkokok. Petrus teringat akan apa yang Tuhan katakan, dia keluar dan menangis. Seorang yang remuk hatinya.
Itulah permulaan baru bagi Petrus. Simon yang tadinya ālemahā, āberubah pendapatā, Yesus menyebutnya menjadi PetrusāBatu Karang. Petrus menyadari bahwa hanya Yesus yang dapat mengubah Simon menjadi Petrus. Hanya Tuhan yang dapat menciptakan batu karang dari seorang pembual yang ragu, yang selalu mencla-mencle, berubah-ubah dalam pendapatnya.
Kebesaran sejati muncul dengan cara iniādengan melewati jalan kehancuran. Tak ada seorang pun yang benar-benar besar kecuali sebelumnya dia telah ditempa Allah lebih dahulu. Sebelum seseorang menemui jalan buntu dengan dirinya sendiri dan menyadari keterbatasan-keterbatasannya, sebelum dia menangisi kegagalannya sendiri, kesombongan, bualan-bualannya; dia tidak akan pernah benar-benar menjadi besar.
Hari itu Petrus belajar bergantung sepenuhnya kepada Allah. Dia belajar menjadi dewasa dengan merendahkan dirinya di hadapan Allah dan tunduk pada kekuasaan dan pemerintahan Tuhan dalam hidupnya.
Kebesaran seseorang terletak dalam kelemahannya. Orang hebat di dunia adalah mereka yang lemah di hadapan Allah. Orang terbesar adalah mereka yang kecil di hadapan Allah. Orang tertinggi adalah mereka yang rendah di hadapan Allah.
Selamat bekerja.
U.G. | Peserta Write The Vision (Gel. I)
Foto: Istimewa