Dengan Cara TUHAN

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Yosua 8–12 memperlihatkan ungkapan yang sering diulang, bak refrein, ”sesuai dengan firman TUHAN” dan ”seperti yang diperintahkan TUHAN”. Kedua ungkapan itu sama maknanya: Israel, baik pemimpinnya maupun rakyatnya, melakukan segala sesuatu sesuai kehendak TUHAN.

Tindakan ini logis. Israel adalah milik Allah. Dan sebagai hamba Allah, mereka tak boleh hidup semaunya sendiri, melainkan hidup seturut dengan kehendak Allah. Namanya juga hamba. Seorang hamba tak boleh bertindak semaunya sendiri. Semua-mua mesti dilakukan dalam ketaatan kepada Allah.

Kisah kekalahan dari Ai, kota yang kecil itu, memperlihatkan betapa Allah ingin umat-Nya melakukan segala sesuatu menurut cara-Nya. Dan ketika segelintir orang, misalnya Akhan sengaja tidak menaati Allah dengan menyembunyikan jarahan bagi diri sendiri, Allah pun mempermalukan Israel. Menarik diperhatikan, kesalahan satu orang ditanggung seluruh bangsa.

Namun, bertindak dengan cara TUHAN tidak berarti umat dilarang berkreasi. Ketika cara TUHAN tidak terlalu jelas, Israel dengan menggunakan akalnya—yang juga merupakan karunia-Nya—diperkenankan merancang strategi. Itu jugalah yang terjadi dalam perang dengan Ai. Dengan jitu Yosua membuat orang Ai meninggalkan kota tanpa terlindungi.

Strategi yang dipakai Yosua pun sejatinya telah dikomunikasikan dengan Allah. Perhatikan catatan ini: ”Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Acungkanlah lembing yang ada di tanganmu ke arah Ai, sebab Aku menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu” (Yos. 8:18). Meski ada strategi manusia (Yos. 8:4-8), ada juga campur tangan Allah. Allah dan manusia bekerja sama dalam mewujudkan rencana-Nya. Kota Kerajaan Ai berhasil dikalahkan dengan sempurna.

Namun, kisah perjanjian dengan orang Gibeon memperlihatkan catatan menarik: ”Lalu orang-orang Israel mengambil sebagian bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta petunjuk TUHAN” (Yos. 9:14). Di sini persoalannya. Ini juga persoalan semua orang yang lebih suka menggunakan nalarnya. Kepercayaan diri—yang juga anugerah Allah—kadang membuat manusia enggan untuk memercayakan diri kepada Allah. Enggan berkomunikasi dengan-Nya.

Kisah perjanjian itu dicatat agar kita, orang-orang percaya abad ke-21, dapat belajar darinya—untuk senantiasa mengandalkan Allah. Akal adalah anugerah. Oleh karena itu, jadikanlah Allah sebagai rekan sahabat diskusi agar kita tidak jatuh dalam kesalahan yang sama! 

Lagipula, ini yang juga penting, jika kita percaya bahwa masa depan ada di tangan Allah, aneh rasanya jika kita tidak melibatkan-Nya dalam setiap keputusan yang kita buat.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa