”Mereka sujud menyembah Dia, lalu pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita” (Luk. 24:52).  Para murid masuk ke Yerusalem, kota tempat Sang Guri mati disalib, bukan dengan raut dukacita, tetapi penuh sukacita. Bukan dengan rasa khawatir atau takut, tetapi penuh dengan kegembiraan dan keberanian.

Apa yang membuat para murid bersukacita? Bukankah Sang Guru tak lagi bersama? Kelihatannya mereka makin mengerti makna kematian dan kebangkitan sekaligus kenaikan Yesus Orang Nazaret. Lukas sebelumnya mencatat: ”Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Luk. 24:45).

Mengerti Kitab Suci

Ini menjadi penting karena selama ini mereka begitu ketakutan menghadapi Mahkamah Agama, ahli Taurat, dan orang Farisi. Kekurangpahaman memang tidak menyenangkan, bahkan membuat orang ketakutan. Sang Guru menyatakan bahwa kematian-Nya bukanlah kematian biasa. Kematian-Nya telah dirancangkan sejak dosa pertama demi keselamatan manusia. Ia memang mati disalib, namun itulah sarana penyelamatan manusia.

Salib dan kebangkitan mestinya juga membuat kita bersukacita. Jangan minder karena salib! Memang kisah penyaliban tak mudah dicerna manusia. Bagaimana mungkin Allah mati? Yang Maha Kuasa kok mati. Di mana kehebatan-Nya? Jika ada orang yang mempertanyakannya—bahkan menghina-keallahan-Nya—kita bisa  menyatakan inilah Allah kita. Penyaliban itu bukti keallahan-Nya. Penyaliban adalah bukti kasih-Nya. Ini seharusnya membanggakan kita. Saliblah yang menjadikan kita anak-anak Allah.

Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa penyaliban-Nya sungguh berfaedah. Tanpa kebangkitan, kematian-Nya terkesan konyol. Tanpa kebangkitan, Dia bukanlah Allah. Kebangkitan membuktikan—sebagaimana dikatakan Kitab Suci—bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya dan mengambil-Nya kembali.

Sepertinya, yang dimaksudkan Lukas dengan ”membuka pikiran” dalam Injilnya tidak hanya berkait dengan kematian dan kebangkitan, tetapi juga salah konsep mereka tentang Kerajaan Allah sebagaimama dicatat Lukas dalam buku keduanya Kisah Para Rasul.

 Ya, sepertinya para murid salah konsep ketika memohon, ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6). Dalam pandangan mereka, jika Yesus menjadi Raja, maka merekalah menteri-menterinya. Setidaknya mereka mempunyai akses ke kekuasaan.

Para murid sepertinya telah merasa capek dan bosan hidup dalam ketakutan karena kejaran orang Yahudi. Mereka mendambakan hidup yang stabil dan berharap semuanya terjadi sekarang ini. Apalagi merekalah saksi bahwa Yesus mampu mengalahkan maut. 

Namun, Yesus tidak mengabulkan keinginan mereka. Dia memberikan apa yang mereka sungguh butuhkan, yakni kemampuan untuk tetap bertahan dalam kesulitan hidup. Dengan tegas Yesus menjawab, ”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu…” (Kis. 1:7-8).

Sang Guru tidak menjanjikan hidup nyaman dan bebas dari segala persoalan. Bagaimanapun hidup yang gampang dan bebas dari segala persoalan tidak akan pernah mendewasakan manusia. Dan Yesus tidak ingin para murid-Nya menjadi orang yang maunya enak-enak saja.

Yesus seakan berkata, ”Ya, persoalan hidup memang harus dijalani. Karena hanya dengan itulah kita akan belajar banyak dari kehidupan dan menjadi manusia unggul. Masak kita mau yang ringan-ringan saja! Hidup memang berat. Tetapi, kamu akan mempunyai kemampuan untuk menjalani kehidupan yang berat ini! Roh Kuduslah yang akan menolong kamu untuk menjalani hidup di dunia ini!”

Kesulitan hidup memang gampang diomongkan ketimbang dijalani. Sebagai Kristen, setiap orang percaya tidak pernah dibebaskan dari kesulitan hidup itu. Dan itu bukan soal selama mereka dikuasai Roh Kudus.

Menjadi Saksi

Tak sekadar menerima kuasa, tetapi mereka dipanggil untuk menjadi saksi. Kata Sang Guru, ”Dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis1:8). Itu berarti para  murid diberi kuasa untuk menjadi saksi Kristus.

Mengapa pula harus menjadi saksi Kristus? Sebab Kristus tidak ada lagi di dunia secara fisik. Para muridlah yang masih ada di dalam dunia. Dan menjadi saksi Kristus, tidaklah dimulai dari ujung dunia, tetapi di Yerusalem. Itu berarti kita dipanggil untuk menjadi Kristus bagi orang terdekat terlebih dahulu. Itu modal terbesar seorang saksi. Jika dia dipercaya oleh orang-orang sekitarnya, tak sulit bagi dia untuk menjadi saksi di tempat yang lebih luas.

Menjadi saksi Kristus berarti memperlihatkan Kristus! Menyatakan Kristus dalam hidup sehingga orang lain dapat melihat Kristus dalam diri para murid. Mengapa? Karena dunia membutuhkan Kristus! Tak heran mereka begitu bersukacita. Bukankah selama ini mereka tidak dianggap? Kenaikan Yesus ke surga membuat mereka makin percaya diri.

Para murid pulang dengan bersukacita karena telah tiba waktunya bagi mereka—mengutip William Barclay—”mengubah pandangan dari percaya kepada Yesus duniawi menjadi Kristus surgawi; Yesus yang terlihat menjadi Kristus yang tidak terlihat. Dari yang dibatasi ruang dan waktu menjadi yang tak dibatasi ruang dan waktu.” Dengan demikian, para murid mempunyai seorang Sahabat bukan saja di atas bumi, tetapi juga di surga.

Yang tak boleh dilupakan Yesus naik ke surga dalam posisi tubuh memberkati. Itu berarti Ia akan terus memberkati para murid sampai selama-lamanya. Agaknya, ini jugalah yang membuat mereka sangat bersukacita.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa