”Akulah pintu. Siapa yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput” (Yoh. 10:9). Demikianlah sabda Sang Guru kepada para murid-Nya.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Akulah pintu. Siapa masuk melalui Aku akan selamat; ia keluar masuk dan mendapat makanan.” Yesus adalah pintu keselamatan. Yang masuk akan selamat dan yang keluar akan mendapatkan makanan. Apa artinya? Yesus Orang Nazaret adalah Juru Selamat sekaligus Sumber Selamat. Dengan kata lain, keselamatan yang diberikan, sebagaimana diri-Nya, kekal.

Petrus dalam suratnya menyatakan: ”Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh karena bilur-bilur-Nya kamu telah disembuhkan. Sebab, dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr. 2:24-25).

Peristiwa Jumat Agung memperlihatkan bahwa Yesus mati agar manusia hidup. Ia menjadi pengganti dalam menanggung upah dosa—maut. Dan pribadi pertama yang sungguh merasakannya adalah Barabas. Hukuman mati bagi Barabas urung dilaksanakan karena Yesus menggantikannya menerima hukuman mati itu. Juga bagi kita. Karena itu, kita dipanggil hidup untuk kebenaran. Jadi, tidak asal hidup, tetapi hidup untuk kebenaran.

Hidup Jemaat yang Pertama

Dan kita punya contoh nyata, yakni jemaat yang pertama. Mari kita perhatikan!

Pertama, ”mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, dalam persekutuan” (Kis. 2:42). Jemaat pertama adalah jemaat yang senantiasa belajar dan bersekutu. Mereka menyadari bahwa setiap pengikut Kristus perlu belajar menjadi pengikut Kristus. Orang boleh dengan lugas menyatakan diri sebagai orang Kristen. Namun, apa artinya pengakuan itu kalau dia sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan: Apa artinya Kristen? Mengapa saudara menjadi Kristen? Apa yang seharusnya dilakukan seorang Kristen? Di manakah beda seorang Kristen dengan orang bekepercayaan lain?

Seorang Kristen seharusnya bisa menjawab semua pertanyaan tadi. Seorang Kristen harus sungguh-sungguh mengetahui apa yang dipercayainya. Sebab, masih layakkah seorang menyebut diri Kristen kalau dia sendiri tidak mengetahui alasan dia menjadi Kristen?

Bagaimana supaya mengerti? Ya, belajar. Warga jemaat pertama tekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka belajar agar dapat lebih mengenal Tuhan yang mengasihi mereka. Bagaimana dengan kita, jemaat yang hidup pada abad ke-21? Kita pun perlu belajar mengenai apa yang kita percayai. Supaya kalau ada orang yang bertanya kepada kita tentang iman Kristen, kita dapat menjawabnya dengan baik.

Dan cara belajar yang efektif adalah dalam persekutuan. Artinya, belajar bersama. Bagaimanapun, belajar bersama—khususnya dalam hal iman—akan memperkaya setiap orang yang sedang belajar. Belajar sendiri, membaca buku rohani secara pribadi, memang baik. Akan tetapi, lebih baik lagi jika masing-masing orang menceritakan apa yang dipelajarinya dalam persekutuan. Sehingga setiap orang dapat diperkaya oleh pengalaman saudara persekutuan lainnya.

Kedua, ”dalam memecahkan roti dan berdoa” (Kis. 2:42). Persekutuan yang mereka lakukan tidak hanya berkutet soal pengajaran iman Kristen. Tidak hanya berkait dengan rasio, tetapi juga menyinggung rohani; dalam hal ini sakramen perjamuan dan doa. Jadi, persekutuan yang terjadi tidak hanya persekutuan nalar, tetapi rohani. Pada kenyataannya, jika mengandalkan rasio saja, akan terjadi kekeringan rohani. Bukankah yang sering terjadi rasio kuat, tetapi Rohani memble. Atau, sebaliknya. Perlu keseimbangan di sini. Jangan hanya satu sisi! 

Ketiga, mungkin ini sangat radikal dalam pemahaman manusia abad ke-21, ”semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis. 2:44-45).

Persekutuan yang terjadi ternyata bukan sekadar persekutuan rasio, rohani, namun juga persekutuan harta benda. Agaknya, mereka memahami bahwa harta benda mereka bukanlah berasal dari diri mereka sendiri, sehingga mereka tidak keberatan jika harta benda itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Ini bukan berarti bahwa milik sendiri tidak dihargai. Namun, mereka rela memberikan harta itu kepada orang lain sesuai dengan keperluannya. Pada akhirnya, nilai diri seseorang tidaklah ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh apa yang dia lakukan dengan apa yang dimilikinya itu.

Keempat, ”mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah”(Kis. 2:46-47). Mereka bersekutu secara jasmani pula. Lukas mencatat bahwa mereka juga bersekutu dengan cara makan bersama. Sesungguhnya, makan bersama memperlihatkan persekutuan sejati karena semua orang yang terlibat dalam makan bersama itu setara kedudukannya. Artinya, semua orang memakan makanan yang sama. Tidak ada diskriminasi. Semua orang boleh memakan makanan yang terhidang. Entah kaya–miskin, pintar–bodoh, pribumi–asing, pada saat makan bersama akan memakan lauk yang sama. Dan yang terjadi adalah suasana gembira dan tulus hati. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.

Dari keempat hal tadi tampaklah bahwa setiap orang mendapatkan apa yang diperlukannya. Dan terlihat pula bahwa dalam jemaat pertama ini, janji Yesus, bahwa orang yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10), terwujud.

Tak heran kalau pada akhirnya, Lukas mencatat pula, ”mereka disukai semua orang”(Kis. 2:47). Suasana jemaat semacam itu ternyata berdampak pula bagi orang-orang di luar persekutuan itu. Bahkan orang-orang di luar persekutuan itu menyukai cara hidup semacam itu. Cara hidup Kristiani seharusnya memang membuat orang lain menghormati para pengikut Kristus. Tak heran kalau pada akhirnya, Lukas mencatat bahwa jumlah mereka semakin hari semakin bertambah. Karena memang banyak orang yang bersimpati dengan gaya hidup mereka.

Dan sesungguhnya inilah hidup yang telah diubah Sang Gembala Agung.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa