Lalu Menangislah Yesus

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Lalu menangislah Yesus (Yoh. 11:35). Hanya tiga kata. Dalam Kitab Suci tertera: Gusti Yesus muwun. Juga tiga kata. Alkitab NIV cukup dengan dua kata: Jesus wept.

Yesus menangis ketika menyaksikan Maria begitu sedih karena kematian Lazarus. Ia tidak melarang Maria menangis. Tidak. Ia membiarkan Maria menangis, bahkan turut menangis bersama Maria.

Allah yang menjadi manusia itu menangis saat menyaksikan penderitaan manusia. Kematian memang kejam. Ia memisahkan manusia dari orang yang dikasihnya. Tiada lagi persekutuan fisik. Yesus sungguh paham penderitaan akibat maut. Itu jugalah yang menyebabkan Yesus menangis. Dan tangisan Yesus menjungkirbalikkan pemahamaan orang tentang Allah.

Allah yang Berempati

Kepercayaan Yunani masa itu, juga banyak agama masa kini, memahami bahwa salah satu ciri utama Allah adalah apatheia yang berarti ketidakmampuan secara total untuk merasakan emosi apa pun. Pathos berarti penderitaan. Apathos atau apatheia berarti bahwa Allah, yang sempurna, tidak mungkin merasakan penderitaan. Karena itu, Allah tidak mungkin menangis. Namun, inilah kenyataannya, Yesus menangis.

Bagaimanakah perasaan Maria ketika menyaksikan Yesus menangis. Kemungkinan besar Maria terhibur. Ia menyadari, dalam kesedihannya, Yesus ternyata memedulikannya. Sang Guru tidak pernah meninggalkannya, bahkan merasakan apa yang dirasakannya.

Adakah penghiburan ketimbang kenyataan ini: Yesus merasakan apa yang kita rasakan? Yesus peduli. Ia memperhatikan kita, bahkan menangis bersama kita di dalam penderitaan kita.

Yesus tidak bersifat apatheia. Sebaliknya, dia berempati. Dalam bahasa Yunani, en artinya dalam, dan pathos berarti penderitaan. Empati berarti dalam penderitaan. Dengan kata lain Yesus berada dalam penderitaan orang yang menderita. Sang Guru merasakan apa yang dirasakan manusia. Karena itu, Yesus membangkitkan Lazarus. Kebangkitan Lazarus menyiratkan bahwa Allah lebih menyukai kehidupan ketimbang kematian.

Nubuat Yehezkiel

Allah bukanlah Pribadi yang menghendaki kematian. Ia menghendaki kehidupan umat-Nya. Sejak dunia diciptakan, keinginan Allah cuma satu: kehidupan dan bukan kematian manusia. Dan manusia hidup jika dan hanya jika bersekutu dengan khaliknya! Ketika manusia melepaskan diri dari persekutuan dengan penciptanya, kematian menjadi keniscayaan. Tak beda dengan ikan yang melompat keluar dari akuarium. Saat keluar dari akuarium, kematian sudah di depan mata.

Namun, itu bukan tanpa jalan keluar, Selama, tentu saja, manusia mau kembali bersekutu dengan Allah. Itulah yang tersirat tampak dalam nubuat Yehezkiel.

Yehezkiel melihat tulang-tulang berserakan yang amat kering pada sebuah lembah (Yeh. 37:1-14). Intinya satu: kematian. Mungkin ia bingung dan bertanya-tanya: ”Mengapa Roh Allah membawa dia ke lembah penuh tulang?” Mungkin juga ia merasa tanpa harapan. Ya, apa yang bisa diharapkan dari sekumpulan tulang manusia. Manusia hidup, satu orang saja, bisa mengubah dunia! Namun, seribu orang mati: apa yang bisa dilakukannya? Nothing! Tidak ada! Tak ada sesuatu apa pun yang bisa dikerjakan seribu orang yang telah mati. Satu manusia hidup lebih berharga ketimbang seribu orang mati!

Kemudian Allah bertanya, ”Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Dari pertanyaan, tulang-tulang itu, dengan usahanya sendiri, tidak mungkin hidup kembali. Yehezkiel sungguh paham. Namun, ia sendiri ingin tulang-tulang itu hidup kembali. Sang nabi menjawab bahwa semuanya tergantung Allah. Bergantung pada rahmat Allah!

Keberadaan Israel sebagai bangsa buangan tak beda jauh dengan kumpulan tulang kering itu: mati, tanpa pengharapan, bahkan tak tahu harus berbuat apa. Namun, Tuhan berkenan membangkitkan dan menghidupkan kembali keberadaan Israel sebagai bangsa.

Bagaimana caranya? Semuanya dimulai ketika mereka mendengarkan suara Allah. Mendengarkan suara Allah mengandaikan sikap hidup bergantung total kepada-Nya. Apa pun situasi dan kondisi kita, mendengarkan suara Allah adalah awal persekutuan kita dengan Allah. Dan itulah yang membuat hidup kita lebih hidup.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa