Mengelola Pikiran

Belum lama ini saya membaca tentang teori jeruk nipis. Disebutkan bahwa ketika kita membayangkan sebuah jeruk nipis yang diiris menjadi dua bagian lalu perlahan diperas salah satunya, maka tetes demi tetes airnya jatuh membayangi lidah kita. Air jeruk nipis itu belum benar-benar menyentuh mulut, tetapi tubuh sudah memberi respons dengan menelan ludah, merasakan asam yang bahkan belum ada. Teori jeruk nipis ini adalah sebuah gambaran sederhana bahwa pikiran manusia bisa memengaruhi rasa dan respons tubuh, bahkan saat semuanya hanya khayalan.
Ketika seseorang merasa cemas berlebihan, tubuh mulai bereaksi negatif seperti mulas, gampang lelah, jantung berdebar bahkan jatuh sakit. Sesuatu yang dicemaskan belum terjadi namun sudah terlebih dulu ”memeras jeruk nipis dalam kehidupan”. Tetes demi tetes yang rasanya asam membuat segalanya terasa berat dari yang sebenarnya. Itu sebabnya walaupun tidak mudah, kita perlu mengelola pikiran sebab pikiran memengaruhi perasaan, kesehatan, tindakan, kedamaian, kejiwaan, hubungan, penghasilan, dan kenyataan.
Aristoteles, seorang filsuf Yunani, menuliskan: ”Pikiran melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, dan karakter menciptakan nasib.” Dia menegaskan bahwa segala hal yang besar dimulai dari pikiran kecil yang dijaga dengan konsisten. Jika pikiran positif, tindakan akan benar. Jika tindakan benar, kebiasaan terbentuk. Dan jika kebiasaan baik menjadi karakter, maka hidup kita akan terarah dengan bijak.
Sebagai orang percaya kita mengetahui bahwa kemampuan berpikir merupakan karunia Allah. Mengarahkan pikiran pada hal-hal positif yang bersumber pada firman Tuhan adalah keniscayaan. Banyak hal yang kita ketahui tentang firman Tuhan, persoalannya seberapa banyak firman Tuhan itu memengaruhi cara berpikir kita, perbuatan kita, dan berdampak dalam kehidupan kita?
Yudi Hendro Astuti | Sobat Media – Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Foto: Unsplash/Shaun Meintjes