”Ah, kalau saja seluruh umat Tuhan menjadi nabi, karena Tuhan memberi Roh-Nya kepada mereka!” (Bil 11:29). Demikianlah respons Musa ketika Yosua memberitahu bahwa Eldad dan Medad juga kepenuhan Roh Tuhan meski mereka berdua—entah karena apa—tidak bersama ketujuh puluh pemimpin yang menerima kuasa.

Pada Hari Pentakosta ini kita bisa meneladan Musa. Sebagai pemimpin ia tidak mau memimpin seorang diri—pintar sendiri dan berkuasa sendiri. Ia ingin makin banyak orang yang mendapatkan kuasa dari TUHAN sendiri. Ia ingin makin banyak orang yang terlibat dalam memimpin umat Allah.

Kuasa adalah Karunia

Kisah ini dipicu oleh keluhan Musa yang merasa berat memimpin bangsa yang gemarnya mengeluh terus. Mulanya, Israel mengeluh karena tidak ada makanan, Tuhan pun lalu mengirim manna. Kemudian Israel mengeluh karena tidak ada daging yang dapat dimakan. Di sinilah Musa bingung dan sedih karena harus sendirian memimpin bangsa Israel. Allah pun menjawab kegentaran Musa dengan memberikan kuasa kepada tujuh puluh pemimpin.

Hanya persoalannya, ketika Tuhan mencurahkan kuasanya itu. Eldad dan Medad absen. Entah mengapa mereka tidak ikut berkumpul bersama dengan tujuh puluh pemimpin itu. Yang pasti, Tuhan tetap memenuhi janji-Nya kepada Musa.

Seorang penggemar, mungkin juga pengagum, Musa yang menyaksikan apa yang terjadi pada diri Eldad dan Medad—sekali lagi karena mereka absen sebelumnya—melaporkannya kepada Yosua. Yosua pun agaknya tak rela ada orang sehebat atasannya. Apa lagi mereka tak hadir saat kuasa itu dicurahkan Allah kepada para pemimpin. Ia tak ingin atasannya mendapatkan saingan. Namun, tanggapan Musa sebaliknya. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Saya malah mengharap supaya TUHAN memberikan Roh-Nya kepada seluruh bangsa-Nya, dan membuat mereka semua menjadi nabi!”

Dari kisah tersebut jelaslah: Allah berdaulat. Ia yang telah mengaruniakan kuasa kepada Musa dalam kedaulatan-Nya, berdaulat pula mengambil sebagian kuasa itu dan membagikannya kepada orang lain.

Musa tidak sakit hati. Ia tidak menganggap mereka saingan. Tampaknya, dia paham hakikat karunia. Karunia diberikan bersasarkan anugerah semata. Tak ada andil Musa ketika Allah mengaruniakannya. Jika Tuhan mengambilnya kembali, Musa pun tak merasa kehilangan apa pun. Sekali lagi, kuasa kepemimpinan adalah karunia yang bisa diambil kapan saja!

Berkenaan dengan pencurahan Roh, pemazmur menyatakan: ”Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membarui muka bumi.” (Mzm. 104:30).

Memberikan Kehidupan

Harapan Musa itu terpenuhi dalam kisah Pentakosta (Kis. 2:1-21). Tak hanya kesebelas rasul, semua orang percaya (sekitar 120 orang) dipenuhi Roh Kudus. Catatan Lukas ”ketika tiba hari Pentakosta” menyatakan bahwa waktunya telah genap dalam rencana dan kedaulatan Allah sendiri.

Semuanya tanpa kecuali, yaitu rasul-rasul dan orang-orang percaya lainnya, laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Jadi, tak hanya Musa dan 70 Tua-tua! Pada Hari Pentakosta semua orang percaya mendapat kuasa Roh Kudus. Mereka diberi kesanggupan untuk berbicara tentang magnalia Dei (perbuatan-perbuatan besar Allah) dan bersaksi mengenai Yesus Kristus. Yang paling penting, mereka tidak hanya membicarakan diri mereka sendiri!

Persoalan terbesar manusia ialah lebih suka membicarakan diri sendiri—entah kekuatan maupun kelemahan diri. Ujung-ujungnya: jika bukan pemujaan, ya pengasihanan diri. Dan itu tidak terjadi di Pentakosta. Mereka mempercakapkan karya Allah dalam diri Yesus Kristus.

Pada titik itu, mereka sedang menjadi saksi Kristus—membagikan kehidupan kepada banyak orang. Tuhan Yesus menyatakan: ”Siapa saja yang percata kepada-ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir sungai-sungai air hidup” (Yoh. 7:38). Dalam Perjanjian Bagi dalam Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Siapa saja yang percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya akan mengalir banyak air yang memberi hidup.”

Perhatikan ada tanggung jawab di balik karunia. Tanggung jawabnya adalah memberikan, dan bukan mematikan, kehidupan. Kuasa yang dikaruniakan kepada kita bukan untuk kemaslahatan diri kita sendiri, tetapi untuk orang lain juga. Inilah bukti nyata bahwa kita dipimpin oleh Roh Kudus.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa