Pada Mulanya Allah Bekerja

Published by Yoel M. Indrasmoro on

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Demikianlah penulis Kitab Kejadian membuka tulisannya.

Kalimat pembuka merupakan hal penting bagi penulis. Tentu harus harus menarik. Namun, yang lebih penting, kalimat pembuka merupakan dasar tulisan. Tak heran, para penulis bergumul keras dengan kalimat pembuka tulisannya.

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Inilah dasar bangunan—sekaligus dasar iman—Kitab Kejadian. Penulis sepertinya hendak mematahkan anggapan orang semasanya bahwa setiap benda langit adalah dewa.

Kalimatnya sederhana. Ada keterangan waktu: pada mulanya; subjek: Allah; predikat: menciptakan; dan objek: langit dan bumi. Kelihatannya,  sejak awal, penulis hendak memperlihatkan Allah sebagai Pribadi yang bekerja. Ya, pada mulanya Allah bekerja.

Vaughan Roberts, dalam bukunya Desain Besar dari Allah, menulis: ”Alkitab dimulai dengan mendeskripsikan bukan waktu luang Allah, melainkan aktivitas-Nya. Ia sibuk dengan kerja besar penciptaan. Setelah menciptakan, Ia tidak bersantai atau tidak melakukan apa-apa. Allah masih terus bekerja menegakkan dan mempertahankan dunia yang sudah Ia buat.”

Mitra Kerja

Allah tidak mengerjakan semuanya itu sendirian. Allah mengangkat kita menjadi mitra kerja-Nya untuk menjadikan dunia layak ditempati. Orang Jawa punya ungkapan memayu ayuning buwana ’menghiasi dunia’. Caranya? Tentu dengan kerja kita!

Roberts—masih dalam buku tadi—mengutip Luther: ”Allah memberikan wol, tetapi bukan tanpa kerja kita. Jika wol itu tetap melekat pada kulit domba, wol itu tidak akan pernah dikenakan manusia.”

Allah memberi kita makan melalui petani, peternak, nelayan, pedagang besar, tukang sayur, juga koki. Masih bisa ditambah dengan para pekerja industri rumah tangga seperti alat masak, juga piring dan sendok. Ya, apa artinya makanan enak tanpa piring dan sendok?

Karena itu, imbuh Roberts dalam bukunya itu: ”Kita harus bersikap tegas untuk tidak merendahkan kerja dengan menilainya sebagai sesuatu yang jahat atau ’tidak rohani’”.

Bukan Hukuman

Persoalannya, banyak orang beranggapan kerja sebagai hukuman Allah atas dosa manusia. Sehingga banyak orang yang meremehkan kerja dan menganggapnya duniawi. Tak jarang orang menganggap pekerja kasar lebih rendah nilainya ketimbang pekerja di belakang meja. Mereka lebih menghargai pekerja kerah putih ketimbang pekerja kerah lainnya.

Padahal, sejak semula, Allah menciptakan manusia untuk bekerja. Penulis Kitab Kejadian menulis: ”TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Ayat ini mendahului peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa. Kerja bukan hukuman.

Menarik diperhatikan, berkait penciptaaan manusia, Allah”membentuk manusia dari debu tanah, dan mengembuskan napas hidup ke dalam hidungnya” (Kej. 2:7). Jika dalam penciptaan-penciptaan sebelumnya Allah hanya berfirman, sewaktu menciptakan manusia Allah digambarkan menggunakan tangan-Nya dan mengembuskan napas-Nya. 

Ya, kerja, baik kerja tangan maupun kerja otak, sesungguhnya perkara rohani!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media