👁️

”Apa yang telah dilakukan bangsa ini kepadamu, sampai-sampai engkau menimbulkan dosa sebesar itu kepada mereka?” (Kel. 32:21). Musa marah kepada Harun. Tak habis dipikirnya, mengapa Harun menggugu keinginan umat Israel untuk membuat Allah. Musa marah karena kakaknya adalah pemimpin umat.

Harun tak mau disalahkan. Ia membela diri: ”Janganlah bangkit amarahmu, Tuanku! Tuan sendiri mengetahui bangsa ini cenderung jahat” (Kel. 32:22). Harun menyalahkan umat Israel.

Benarkah tindakan Harun itu? Tentu tidak. Sebab, Harun adalah pemimpin. Sebagai pemimpin, ia harus bertanggung jawab. Ia tidak boleh lepas tangan, apa lagi cuci tangan.

Lagi pula, menurut catatan penulis Kitab Keluaran, tak ada upaya dari Harun untuk mencegah pembuatan patung itu. Bahkan, ketika umat Israel melihat Patung Lembu Emas dan berseru, ”Hai Israel, inilah Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!” (Kel. 32:5). Harun mendirikan mazbah dan mengajak umat untuk mempersembahkan kurban.

Harun tak bisa cuci tangan. Ia sungguh bersalah. Pertanyaan selanjutnya: ”Kok, bisa? Mengapa Harun bertindak demikian?”

Sepertinya Harun belum sungguh-sungguh mengenal Allah. Meski Allah telah memberi perintah ”Jangan membuat bagimu patung… dan menyembah kepadanya!” (Kel. 20:4-5); ia sendiri yang menyuruh umat untuk mempersembahkan emas yang mereka miliki. Bisa jadi dalam pemahaman Harun permintaan umat Israel merupakan hal yang lumrah. Bukankah selama di Mesir mereka juga telah melihat betapa banyak patung dewa-dewa orang Mesir?

Kisah Harun juga memperlihatkan pentingnya pengenalan akan Allah dalam diri pemimpin umat Allah. Pemimpin tidak boleh bertindak karena tekanan apa pun. Bisa jadi Harun sendirian. Ia kalah suara. Di sini juga terlihat betapa ngerinya demokrasi tanpa pemahaman yang benar.

Yang jelas: Pemimpin harus memiliki dasar yang kuat. Sebab, pada situasi kritis para pemimpin biasanya memang sendirian.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa