Rumput Negara Tetangga Terlihat Lebih Hijau

Pada Desember 2025 diberitakan sebuah survei yang dilakukan Harvard University, menyatakan bahwa Indonesia menempati ranking satu untuk tingkat kesejahteraan menyeluruh (flourishing index). Survei ini sendiri dilakukan sebagai studi untuk memahami lebih dalam apa yang membuat manusia bahagia, merasa aman, penuh harapan, dan tentu saja akan membuat dunia menjadi lebih baik.
Para peneliti menemukan bahwa dari 22 negara yang diteliti, skor flourishing nasional justru sedikit menurun ketika GDP per kapita meningkat. Tingkat kesejahteraan penduduk ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan tingkat GDP. Negara yang tidak kaya secara finansial, bisa jadi kaya dalam hal persahabatan, relasi, dan komunitas. Negara yang kaya secara finansial dengan fasilitas lengkap tidak menjamin warganya hidup dalam perasaan aman, bisa jadi karena gaya hidup yang kompetitif, persaingan akademik, dan pekerjaan yang tinggi sehingga masyarakat lebih individualistis.
Beberapa hari ini saya membaca berita tentang seorang alumnus ITB yang menjadi LPDP awardee. Dia merasa bangga anaknya yang masih kecil menjadi WNA, ”Cukup saya saja yang WNI….” Kalimat yang merendahkan kewarganegaraan Indonesia dan menghadirkan perbincangan di jagat maya, apalagi suami istri tersebut bisa sekolah ke luar negeri karena dibiayai oleh negara Indonesia, dari pajak rakyat dan utang negara. Apakah sedemikan indahnya hidup di negara lain?
Beberapa orang di sekitar saya juga memiliki cita-cita ke luar negeri. Katanya, dengan menjadi pemetik buah anggur di Australia pun bisa mendapatkan uang lebih banyak daripada kerja kantoran di Indonesia. Seorang teman menunjukkan tingginya perbedaan pendapatan per kapita di Singapura yang hanya berjarak 2 jam dari Jakarta (dengan pesawat), dibanding dengan Indonesia.
Saya jadi teringat ilustrasi khotbah dari seorang pendeta. Dia menceritakan tentang sepasang suami istri yang berjalan kaki berdua dengan naungan sebuah payung. Tiba-tiba lewatlah sebuah motor yang dikendarai sepasang suami istri juga. Sang suami berkata, ”Ah, Istriku, seandainya aku memiliki motor, kita tidak perlu jalan kaki sepayung berdua seperti ini.” Pengendara motor yang juga sepasang suami istri dalam perjalanannya melewati sebuah mobil tua. Sang suami berkata, ”Istriku, seandainya aku memiliki mobil, walaupun tua seperti mobil itu, kita tidak perlu hujan-hujan naik motor.” Ternyata di mobil tua itu juga dikendarai sepasang suami istri. Mereka tiba-tiba melihat sebuah mobil baru yang keren menyalip mereka. Sang suami berkata, ”Duhai Istriku, seandainya aku memiliki mobil yang bagus, tidak pernah mogok seperti ini, kita tidak perlu disalip mobil-mobil lain.” Ternyata di dalam mobil yang keren itu juga ada sepasang suami istri, sang suami berkata, ”Istriku tercinta, seandainya aku menjadi pebisnis yang sukses, aku bisa mempekerjakan sopir dan membeli mobil satu lagi untukmu, sehingga kita tidak buru-buru berbagi mobil, dirimu bisa bebas melakukan aktivitas tanpa tergantung jadwalku.” Kemudian sebuah mobil BMW melewati mereka semua, dengan sopir berjas, tampak di belakangnya seorang bapak dengan aura pebisnis yang sukses. Dia menuliskan di gawainya, ”Dear istriku, hari ini rintik hujan menemaniku dalam perjalanan ini. Di jalan aku melihat sepasang suami istri berjalan sepayung berdua. Alangkah indahnya mereka, seandainya kita bisa lepas dari semua kesibukan kita, dan menjadi seperti mereka.”
Manusia memang ingin mendapatkan kesuksesan dalam hidup. Sukses secara finansial terutama. Namun, janganlah kita seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Tuhan yang sudah menempatkan kita di negara ini, sudah selayaknya kita pun bertanggung jawab akan tanah air yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Karena jangan-jangan, orang di luar negeri pun ingin merasakan kehidupan seperti di Indonesia. Di mana senyum mudah ditemui di wajah teman-teman, hidup tidak harus selalu buru-buru, sesekali jam ngaret bukanlah dosa, ataupun tidak sengaja menginjak kaki orang, namun orang yang terinjak kakinya malah yang minta maaf.
Marilah kita bangun negara yang indah dan ramah ini dengan semangat, karena jika bukan kita, siapa lagi?
Tjhia Yen Nie | Sobat Media
Foto: Unsplash/Fubukina