Bertanya

Sabda-Mu Abadi | 26 November 2025 | Mat. 20:29-34
”Ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru, ’Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!’ Orang banyak itu menegur mereka supaya mereka diam. Namun, mereka makin keras berseru, ’Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!’ Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata, ’Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?’ Jawab mereka, ’Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.’ Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyentuh mata mereka. Seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.”
Kisah penyembuhan dua orang buta yang duduk di pinggir jalan memperlihatkan bahwa Sang Guru merasa perlu bertanya. Ia tidak berasumsi bahwa kedua orang buta itu ingin melihat. Meski mahatahu, Yesus menghormati kedua orang buta itu untuk menyatakan niat mereka.
Tindakan Yesus ini mengajar kita—orang-orang percaya abad ke-21—yang merasa lebih tahu kebutuhan orang lain. Bisa jadi kita mendapatkan kesimpulan itu melalui riset, jadi bukan sekadar hasil lamunan. Namun, penting untuk diingat bahwa kita bukan orang tersebut. Kita hanya bisa mengira-ngira kebutuhan mereka. Mereka sendirilah yang paling tahu apa yang mereka butuhkan.
Bertanya tentu saja butuh waktu. Sebab, kita pun harus bersedia menunggu jawaban. Namun, bertanya sejatinya lebih bertanggung jawab ketimbang kita spontan melakukan sesuatu hanya karena merasa sudah tahu.
Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Berikut tautan untuk mendengarkan siniar Sabda-Mu Abadi:
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media!