👁️

Apakah yang bisa kita pelajari dari Perumpamaan Lalang dan Gandum (Mat. 13:24-30) ini? Pertama, mustahil berharap sekeliling kita baik semata. Perhatikan awalan lagu Nyanyikanlah Kidung Baru 204: ”Di dunia yang penuh cemar….” Demikianlah kenyataannya. Dunia memang cemar. Kejahatan senantiasa ada di sekitar kita. Kejahatan akan selalu menemani kebaikan.

Menarik diperhatikan, Allah sendiri tampaknya ”sengaja membiarkan” yang jahat itu tetap ada dalam dunia. Mengapa Dia tidak langsung mencabut lalang-lalang itu? Bukankah Allah itu mahakuasa? Jawabannya: Allah mengasihi umat-Nya.

Perhatikanlah alasan Sang Tuan dalam perumpamaan itu: ”Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Namun, ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu” (Mat. 13:28b-29).  

Tuan itu tak mau mencabut lalang. Alasannya sederhana: Ia khawatir gandum itu akan ikut tercabut. ia lebih mengasihi gandum tersebut. Jelas, ia memang lebih fokus pada gandum.

Lalang dan gandum tampak tak begitu berbeda ketika masih muda. Namun, ketika berbulir, terlihat jelas mana gandum dan mana lalang. Lalang pasti tak berbulir. Dan biasanya petani akan mencabut lalang tersebut. Ia tak mau pertumbuhan gandum itu terhambat dengan adanya lalang.

Yang dilakukan Sang Tuan memang aneh. Seorang petani merasa tak keberatan jika ada sedikit gandum yang ikut tercabut. Dan itulah yang tidak diingini tuan tersebut. Bagi dia, meski sedikit, toh ada gandum yang tercabut. Ia sayang semua gandum itu. Jadi fokusnya adalah gandum itu.

Kedua, tak mudah bagi kita menilai mana yang baik dan mana yang jahat. Sepintas, lalang dan gandum memang mirip. Lagi pula, kita takkan mungkin menilai hati orang. Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu? Karena itu, kita dipanggil untuk tidak menghakimi atau memuja seseorang. Itu hanya akan membuat kita kecewa.  

Karena itu, waktulah yang akan membuktikan apakah tindakan seseorang itu sungguh baik atau sekadar kedok. Waktulah yang akan menyatakan dengan jelas mana loyang mana emas. Agaknya itu juga alasan sang pemilik tidak mencabut lalang itu.

Itu berarti panggilan kita sebagai gandum adalah tetap berbuah meski susah sungguh. Tetap berbuat baik dalam segala situasi merupakan hal logis karena kita adalah umat kesayangan-Nya. Kita dipanggil untuk sebagaimana refrein lagu tadi: ”Nyatakan Yesus dalammu, nyatakan Yesus dalammu; sampaikan Firman dengan hati teguh, nyatakan Yesus dalammu.”

Ya, kita tetap dipanggil untuk menjadi saksi (Yes. 44:8)!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa