👁️

Lebih Berharga

”Bukankah dua ekor burung pipit dijual seharga satu keping uang terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah takut! Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Mat. 10:29-31).

Konteks nasihat Sang Guru adalah perutusan para murid. Mereka diutus bagai domba ke tengah kawanan serigala. Ini bukan tindakan bunuh diri. Bagaimanapun, dunia membutuhkan para murid. Dunia membutuhkan Kabar Baik yang dibawa para murid. Karena itu, Allah mengutus mereka.

Tak perlu takut karena sejatinya dunia membutuhkan mereka. Kadang dunia, meski butuh, sering tidak mengakui, malah menekan para murid. Namun, keyakinan bahwa para murid dibutuhkan semestinya menguatkan.

Tentu saja, Sang Guru tak ingin para murid mati konyol. Sehingga Sang Guru memberi pesan agar para murid berusaha cerdik seperti ular, namun tetap tulus seperti merpati. Cerdik berkait strategi, kiat, dan cara berkomunikasi. Namun, tak hanya itu, para murid harus tulus.

Para murid harus menggunakan strategi, tetapi strategi itu bukanlah untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk memenangkan orang lain. Memenangkan orang lain berarti membuat orang lain menang. Strategi itu bukan untuk mempermalukan orang lain, tetapi menyadarkan mereka akan kebutuhan mereka sendiri.

Dalam bagian sebelumnya, penulis Injil memperlihatkan bagaimana Yesus memberi bekal kebijaksanaan kepada para murid-Nya. Meski dunia membutuhkan para murid, mereka tidak boleh memaksa. Bila disambut baik, syukur, dan di situlah damai bisa diwartakan lebih jauh. Bila tidak diterima, pergi saja, dan tak usah memberi kesan pernah berjalan ke situ. Ini arti dari mengebaskan debu. Kebebasan orang untuk menerima atau tidak patut dihormati.

Bahkan bila mereka diperlakukan dengan buruk di satu tempat, tak usah ngotot bertahan seolah-olah harus mati sebagai martir. Yesus mengajarkan, dalam keadaan itu lebih baik mewartakan ke kota lain (ay. 22).

Dan yang terpenting, Allah peduli. Sebagaimana Allah peduli terhadap hidup burung pipit, umat Allah tak perlu khawatir karena Allah memelihara. Tak hanya pada masa kini, juga masa depan.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa