👁️

Hidup hanyalah serangkaian keputusan yang diambil. Setiap keputusan berisiko. Dan setiap keputusan berlanjut dengan keputusan-keputusan lain yang merupakan akibat dari keputusan sebelumnya.

Kedewasaan seseorang terlihat saat mampu mengambil keputusan. Pendidikan sejatinya merupakan sarana latihan bagi manusia untuk mampu mengambil keputusan.

Persoalannya, banyak orang enggan mengambil keputusan karena takut disalahkan. Tak sedikit orang lebih lebih suka menggantungkan dirinya kepada orang lain.

Belajar dari Salomo

Memang tak gampang membuat keputusan. Kita membutuhkan hikmat. Bicara soal hikmat, kita dapat belajar dari Salomo.

Ketika ada kesempatan untuk meminta apa pun dari Allah, Salomo berkata, ”Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang penuh pemgertian untuk menjadi hakim atas dan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat” (1Raj 3:9).

Salomo meminta hati yang penuh pengertian. Dan Allah menanggapi permohonan itu dengan memberikan hati yang bijak dan penuh pengertian.  Hati yang mampu menimbang-nimbang perkara—mana yang benar, baik, dan tepat.

Bagaimana Salomo sampai pada keputusan seperti itu? Mengapa dia tidak meminta—sebagaimana dinyatakan Allah sendiri— umur panjang, kekayaan, nyawa musuhmu; tetapi malah meminta pengertian untuk memutuskan hukum?

Tampaknya, Salomo menyadari bahwa dia seorang raja—pengambil keputusan tertinggi di kerajaan. Sehingga, dia lebih memprioritaskan hikmat dan pengertian ketimbang usia, harta, dan kejayaan di medan laga. Dan permintaan Salomo itu baik di mata Allah karena seturut kehendak-Nya.

Roh Menolong Kita

Bukan persoalan mudah memang. Itu hanya mungkin terjadi kala kita senantiasa bersekutu dengan Allah. Bersekutu dengan Allah berarti manunggal dengan Allah! Hanya dengan itulah kita sungguh-sungguh dapat mengambil keputusan sesuai kehendak Allah.

Kunci hati yang berhikmat adalah persekutuan dengan Allah sendiri. Persekutuan dengan Allah menjadi kunci karena, sebagaimana kesaksian Paulus, manusia tidak tahu, apa yang baik baginya.

Bukankah itu persoalan terbesar manusia? Manusia sungguh-sungguh ingin berbuat seturut kehendak Allah. Tetapi, ya di situ persoalannya, bagaimanakah memahami kehendak Allah itu? Bahkan, kata Paulus, kadang-kadang kita sendiri bingung mengenai apa yang hendak kita doakan!

Mengapa? Karena kita nggak begitu yakin apakah doa itu seturut kehendak Allah atau tidak? Lalu, buat apa kita berdoa kalau kita sendiri tidak yakin bahwa itu merupakan kehendak Allah?

Namun demikian, Paulus menegaskan: ”Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab, kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” (Rm 8:26).

Roh Allah menolong kita untuk mengambil keputusan seturut dengan kehendak-Nya. Kita boleh percaya, tindakan Salomo merupakan karya Roh Allah juga. Pertanyaannya: apakah kita sungguh-sungguh mengharapkan pertolongan-Nya?

Belajar dari Perumpamaan Yesus

Itu jugalah yang terlihat dalam perumpamaan Yesus: ”Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” (Mat 13:44-45).

Perumpamaan itu berkait dengan pilihan, prioritas, dan akhirnya keputusan. Orang itu jelas menghadapi dilema. Ia tidak bisa mendapatkan keduanya: harta terpendam dan harta miliknya. Ia harus memilih.

Ia memilih menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang tersebut. Dan semuanya itu dilakukan karena sukacitanya. Sukacita menjadi alasan kuat bagi dia untuk mengambil keputusan yang sulit. Karena dia paham, harta yang terpendam itu lebih berharga ketimbang semua harta milikinya. Pemahaman semacam itu sejatinya merupakan karya Roh Allah.

Tak gampang memang, bertindak seperti orang dalam perumpamaan Yesus. Oleh karena itu, kita perlu berseru seperti pemazmur: ”Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu!” (Mzm 119:135).

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa