šŸ‘ļø

Yeremia namanya. Artinya: Kemuliaan Allah. Mungkin nama diri itulah yang membuat dia setia menjalani panggilan selaku nabi. Seorang nabi niscaya memuliakan Allah. Aneh rasanya, ada nabi yang memuliakan diri sendiri.

Keinginan memuliakan Allah bukanlah tanpa konsekuensi. Di kalangan nabi sezamannya, Yeremia mungkin termasuk nabi yang paling susah karena harus menyatakan kehancuran bangsanya. Di tengah ancaman militer Babel, bukannya memotivasi umat membela bangsanya, dia malah menyatakan kekalahan total Israel.

Para pemimpin militer menuduh Yeremia memadamkan semangat juang rakyat. Dia dituduh subversib. Tuduhan itulah yang mengantarnya  masuk penjara.

Pertikaian Antarnabi Allah

Bantahan terhadap Yeremia, juga muncul dari kalangan nabi yang tak sejalan dengannya, Nabi itu bernama Hananya. Artinya: anugerah Allah.

Mungkin karena nama yang disandang, Hananya merasa Yeremia berdusta. Bagaimanapun, seturut arti namanya, Hananya percaya Allah mengasihi Israel. Dalam pandangan Hananya, Allah tak mungkin membiarkan Israel hancur.

Kedua nabi itu sama-sama mengasihi bangsanya. Yang satu menyatakan kehancuran, yang lainnya menyatakan kejayaan. Siapa yang benar?

Pada waktu itu, di tengah suasana perang, kebenaran bukanlah sesuatu yang penting. Tak seorang pun menyukai kekalahan. Buat apa perang kalau harus kalah!

Wajarlah jika para pemimpin Israel lebih suka mendengarkan Hananya ketimbang Yeremia. Mereka lebih suka mendengarkan hal yang enak didengar telinga.

Namun, Yeremia tetap menyatakan apa yang benar. Benar dalam pandangan Yeremia ialah sesuatu yang berasal dari Allah. Yeremia tidak mau mengubah pandangan. Dia—sebagai Jurubicara Allah—tetap menyatakan kehendak Allah. Yeremia menyatakan, raja sebaiknya menyerah.

Ketika Hananya, atas nama Allah, menubuatkan kemenangan Israel atas Babel, Yeremia pun langsung menukas, ā€Bagus! Mudah-mudahan saja ramalanmu itu menjadi kenyataan, dan TUHAN betul-betul membawa kembali dari Babel barang-barang Rumah TUHAN bersama dengan semua orang yang telah dibuang ke sana.ā€ (Yer. 28:6, BIMK).

Dalam ucapan Yeremia tersirat, kesejatian nabi akan tampak kala nubuatnya nyata. Dengan kata lain, Yeremia menyatakan biarlah waktu yang membuktikan siapa nabi Allah sejati: Hananya atau Yeremia.

Jurubicara Allah

Sejarah membuktikan Yeremia benar. Sejarah membuktikan pula bahwa Yeremia sungguh mengasihi bangsanya. Namun, sebagai Jurubicara Allah, Yeremia harus mengumandangkan suara Allah. Ia tak boleh mengumandangkan suara hatinya sendiri. Ia juga tak boleh mengumandangkan apa yang orang ingin dengar. Ia hanya boleh mengumandangkan suara Allah.

Jurubicara Allah tak ubahnya pelantangsuara Allah. Ia harus mengatakan kehendak Allah. Tak lebih dan tak kurang. Ia tidak boleh bertindak selaku editor yang mengedit suara Allah, agar pendengarnya senang. Ia juga tidak boleh bertindak selaku penyadur, yang menyesuaikan suara Allah dengan telinga pendengar. Tidak. Dia harus menyatakan kehendak Allah.

Memang bukan perkara gampang karena orang lebih senang mendengarkan apa yang ia ingin dengar. Orang kadang, atau sering, jengah mendengarkan kebenaran. Apa lagi jika kebenaran itu menyakitkan hatinya.

Pada titik ini sebagaimana nasihat Yesus Orang Nazaret kepada para murid-Nya, kita dipanggil untuk menyambut seseorang sebagaimana panggilan yang sedang disandangnya? Menyambut orang benar sebagai orang benar dan menyambut nabi sebagai nabi (Mat. 10:41).

Persoalannya acap di sini. Seberapa jauh kita menyatakan apa yang Tuhan ingin kita katakan. Misalnya: dalam sebuah rapat gerejawi, apakah kita sungguh mengupayakan untuk mengumandangkan suara Tuhan? Apakah saat kita bicara, kata-kata itu merupakan suara Allah? Jika itu sungguh suara Allah, maukah kita mendengarkannya dan menaatinya?

Di kalangan gereja reformasi, semua orang percaya adalah nabi, raja, dan imam. Setiap Kristen adalah nabi—Jurubicara Allah! Setiap Kristen dipanggil pula untuk mengumandangkan suara Allah.

Pertanyaannya: Maukah kita mengumandangkan suara Allah, meski menyakitkan telinga orang lain? Maukah kita mengumandangkan suara Allah, meski hal itu membuat kita tersingkir? Maukah kita mengumandangkan suara Allah, meski menyakitkan diri kita sendiri?

Setiap Kristen dipanggil pula untuk mengumandangkan suara Allah dalam hidup bermasyarakat. Mengumandangkan suara Allah berarti menyatakan apa yang benar—bukan menurut manusia, tetapi menurut Allah. Hanya untuk satu tujuan: kemuliaan Allah.

Itu berarti belajar bersikap dan bertindak sebagaimana Yeremia! Lagipula yang penting untuk disimak, meski terkesan tidak memberikan pengharapan kepada umat Israel, Yeremia menyatakan bahwa meski umat Israel akan kalah perang, Allah tetap menyertai mereka dan pada masanya akan memulihkan Israel. Dan inilah yang tidak dilihat umat Israel.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa