Yusuf di Rumah Potifar

Published by Admin on

Sabda-Mu Abadi | 18 Mei 2024

Kelihatannya kisah ”Yehuda dan Tamar” (lih. Kej. 38) sengaja ditempatkan oleh penulis Kitab Kejadian mendahului kisah ”Yusuf di Rumah Potifar”. Pembaca sepertinya diajak untuk melihat bahwa di tengah kelemahan dan keterbatasan ma­nusia berkait dengan kehidupan seksual, ternyata ada orang yang mampu bertahan dalam mengha­dapi godaan seksual.

Kisah Yusuf yang dijual oleh saudara-sauda­ranya berlanjut dengan kehidupannya di rumah Potifar. Dan Potifar bukan orang sembarangan. Dia adalah kepala pengawal raja. Itu berarti dia merupakan orang kepercayaan raja.

Menarik disimak, Potifar, orang kepercayaan raja itu, ternyata memercayai Yusuf. Penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Tuannya melihat bahwa TUHAN menyertai dia dan bahwa apa pun yang dikerjakannya, TUHAN membuatnya berhasil. Yusuf mendapat kemurahan tuannya dan men­jadi pelayannya. Yusuf pun diberinya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya ke dalam tangan Yusuf” (Kej. 39:3-4).

Dengan kata lain, Yusuf telah menjadi orang kedua di rumah itu. Bahkan, penulis Kitab Kejadian juga menyatakan bahwa dengan keberadaan Yusuf di rumah itu, Potifar menjadi semakin makmur hidupnya. Bahkan disebutkan bahwa karena Yusuf, Potifar tidak perlu melakukan apa-apa lagi selain makan dan minum. Sehingga Yusuf pun makin di­kasihi Potifar.

Namun demikian, di tengah suasana yang menyenangkan itu, Yusuf harus melawan godaan seksual dari nyonyanya. Kelihatannya istri Potifar itu sungguh mengagumi Yusuf. Sebab di samping gagah dan tampan, Yusuf memang tipe manajer yang baik. Bisa jadi istri Potifar itu melihat bahwa Yusuf lebih hebat dari suaminya. Dan karena itu­lah dia ingin tidur dengan Yusuf.

Untuk godaan itu, Yusuf hanya punya satu kata: ”tidak”. Yusuf beralasan: ”Maaf, Nyonya, tuan Potifar telah mempercayakan segala miliknya kepada saya. Ia tidak perlu memikirkan apa-apa lagi di rumah ini. Di sini kuasa saya sama besar dengan kuasanya. Tidak ada satu pun yang tidak dipercayakannya kepada saya kecuali Nyonya. Bagaima­na mungkin saya melakukan perbuatan sejahat itu dan berdosa terhadap Allah?” (Kej. 39:8-9, BIMK).

Yusuf tidak ingin mengkhianati kepercayaan yang diberikan tuannya. Yusuf juga tidak mau mengecewakan Allah yang telah memberikan semua berkat dan kepercayaan tuannya itu. Bagi Yusuf, hidup di dalam penjara, selama itu diberkati Allah, lebih baik ketimbang hidup di luar penjara namun harus berlaku serong. Dan Yusuf berani mengambil risiko.

Kisah ”Yusuf di Rumah Potifar” memperlihat­kan betapa pentingnya bagi orang tua untuk mena­namkan nila-nilai kebenaran kepada anak-anaknya sejak usia dini. Bagaimanapun orang tua adalah guru bagi anak-anaknya, pribadi yang layak digu­gu dan ditiru.

Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media

Klik tautan berikut untuk mendengarkan versi audio:

Foto: Unsplasah/Sander T.