
”Adalah seorang penabur yang keluar untuk menabur.” (Mat 13:3). Seorang penabur pastilah menabur. Jika tak menabur, tak layak dia menyebut diri penabur. Kalau hanya berpangku tangan setiap hari, dia lebih cocok disebut penganggur ketimbang penabur.
Ya, ada penabur sedang menabur. Penabur berpengalaman pasti menaburkan benih bermutu. Awal dari usaha tani adalah mutu benih. Jika mutunya baik, kita dapat mengharapkan hasil baik. Kisah ini memang tidak hendak menyoroti Sang Penabur, atau soal benih yang ditabur, tetapi lebih kepada jenis tanah di mana benih tersebut tumbuh.
Benih itu adalah firman tentang Kerajaan Allah. Dan jenis tanah yang beragam itulah kondisi manusia yang mendengarkan Firman Allah itu.
Ada empat jenis tanah: pinggir jalan, tanah berbatu, tanah yang penuh semak duri, tanah yang baik. Dan semua jenis tanah itu menggambarkan hal yang sama, yaitu orang-orang yang mendengarkan firman tentang Kerajaan Surga.
Sekali lagi, semua jenis tanah itu menggambarkan orang-orang yang mendengarkan firman tentang Kerajaan Surga. Semuanya sama-sama mendengar. Namun, persoalannya: (1) ada yang menganggap sepi; (2) ada yang antusias, namun tidak terlalu berakar dalam hatia; (3) ada yang mengerti, namun meragukannya, dan (4) orang yang mengerti dan menerimanya dalam hatinya.
Tampak di sini, meski sama-sama mendengarkan berita tentang Kerajaan Surga, namun tanggapannya berbeda-beda. Dari yang cuek hingga yang sungguh ingin memahaminya. Tak heran, Sang Guru dari Nazaret menegaskan: ”Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!”
Demi Siapakah?
Agaknya kita perlu kembali mempertanyakan mengapa Sang Guru berseru: ”Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar”? Mari kita bertanya dalam hati: ”Demi kepentingan siapakah semua ini?” Demi kepentingan Allah atau manusia? Mengapa Allah berfirman? Buat siapakah semuanya itu?
”Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!” (Mat. 13:9). Demikianlah perkataan Sang Guru. Keras, tetapi benar. Ya, apa gunanya telinga jika tidak untuk mendengarkan.
Nah, mari kita bertanya dalam hati: ”Demi kepentingan siapakah semua ini?” Demi kepentingan Allah atau manusia? Mengapa Allah berfirman? Buat siapakah semuanya itu?
Ada kebenaran yang pasti berkait dengan firman Allah. kebenaran itu adalah kita, manusia, penting di mata-Nya. Kita sungguh penting di mata Allah sehingga Allah merasa perlu menyapa kita.
Ini tak ubahnya dengan apa yang biasa dilakukan orang tua terhadap anaknya. Mengapa orang tua memberi nasihat, kadang dengan agak keras, kepada anaknya? Jawabannya karena itu adalah anaknya. Sebaik-baiknya orang tua, kadar tegurannya kepada anaknya pastilah berbeda dibandingkan dengan anak tetangga.
Kedua , Allah ingin menyapa umat-Nya. Allah ingin bersekutu dengan manusia. Allah tidak ingin hidup sendirian. Dan kitalah yang disapa-Nya. Dan sebenarnya, kodrat manusia sebagai ciptaan Allah—yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah—adalah bersekutu dengan Allah. Sebagaimana Allah, manusia pun tak ada yang suka dengan kesepian. Kalau Saudara merasa kesepian, percayalah ada Pribadi, Allah sendiri, yang siap menemani.
Ketiga, Allah tahu bahwa hidup itu berat. Dan memang itulah kenyataannya. Sejak penciptaan, Allah menyatakan bahwa dosa membuat manusia harus berpeluh untuk mendapatkan nafkahnya. Doa pula yang membuat manusia-manusia terdekat saling menyalahkan. Ingat: Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular. Dan setiap saat manusia harus mengambil keputusan. Bukankah demikian? Banyak orang yang mencari kehendak Tuhan?
Keempat, sejatiya Allah ingin memercayakan firman-Nya kepada kita. Perhatikan perumpamaan penabur tadi. Penabur memercayakan benih terbaiknya kepada tanah. Kita adalah pribadi-pribadi kepercayaan. Untuk apa? Untuk mengelola kehidupan ini.
Jenis Tanah yang Mana?
Nah, pada titik ini kita perlu bertanya, dari keempat jenis tanah tadi, kita jenis tanah yang mana? (1) yang tidak peduli; (2) yang antusias, namun tidak terlalu berakar dalam hatinya; (3) mengerti, tapi meragukannya, dan (4) orang yang mengerti dan menerimanya dalam hatinya.
Jawabannya? Dugaan saya adalah bisa jadi kita pernah mengalami keempat kondisi ini. Kesulitan hidup sering kali membuat kita mengabaikannya; atau semangat di awal namun tidak mengerti; atau mengerti tetapi malah meragukannya.
Nah, di titik ini agaknya kita mesti jujur dan terbuka. Jika kita memang tidak mengerti ya bertanya, klarifikasi, dan mohon pengertian. Kalau saya, jika tidak mengerti saya akan menggunakan Alkitab dengan bahasa Indonesia sederhana atau setidaknya Bahasa Indonesia Masa kini.
Kalau nggak paham, bertanyalah! Kita bisa belajar dari Maria, ibunda Yesus dalam hal ini. Alkitab menyatakan bahwa ”Maria menyimpan semua hal itu dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk. 2:19). Dalam Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Maria mengingat terus kejadian-kejadian itu dan sering memikirkannya. Artinya, jika tak paham, ya simpan dahulu. Jangan langsung dibuang.
Inilah yang dimaksud Paulus dengan hidup menurut Roh. ”Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Rm 8:5-6).
Siapa bertelinga, baiklah ia mendengar!
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa