
”Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala”(Mat. 9:36).
Yesus melihat. Guru dari Nazaret itu tidak menutup mata. Mata-Nya senantiasa terbuka. Keterbukaan mata itulah yang membuat-Nya mampu memahami keadaan orang banyak itu. Persoalannya, banyak orang, mungkin kita juga termasuk, lebih suka menutup mata terhadap kenyataan sekitarnya atau pura-pura tidak melihat.
Yesus melihat. Bahkan, melihat lebih dalam. Ia melihat orang banyak itu sebagai orang-orang yang tidak mempunyai gembala. Itu berarti tanpa arah, juga tiada orang yang peduli.
Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Waktu Yesus melihat orang banyak itu, Ia kasihan kepada mereka, sebab mereka kebingungan dan tidak berdaya, seperti domba yang tidak punya gembala.” Yesus iba. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ”iba” berarti berbelas kasihan; terharu dan kasihan.
Menarik disimak, Yesus tidak berhenti pada kata ”melihat” dan frasa ”tergerak oleh belas kasihan”. Ia melakukan sesuatu. Yang dilakukan bukanlah mengambil semua pekerjaan sendirian meski Ia sanggup mengerjakan semua tugas itu sendirian. Yesus berbagi tanggung jawab.
Perhatikan pula kata-kata yang keluar dari mulut-Nya: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat. 9:37). Ada semacam pengakuan dalam kalimat tersebut. Tuaian banyak, persoalannya pekerja sedikit.
Sekali lagi, Sang Guru dari Nazaret bertindak. Dan tindakan-Nya cukup kontroversial. Dia memercayakan pekerjaan-Nya kepada orang yang beragam. Perhatikan kedua belas orang yang dipanggil itu: ”Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.” (Mat. 10:2-4)
Tampaklah keberagaman itu, baik dari profesi—nelayan, pemungut cukai, pemberontak, cendekiawan—maupun sifatnya—petrus yang spontan, Yohanes yang pemikir, Tomas yang senantiasa menuntut bukti, Matius yang tak peduli akan hal rohani, Simon orang Zelot yang tukang demo. Orang-orang yang beragam itu berharga di mata Yesus. Sekali lagi, Yesus memanggil orang-orang tersebut untuk mengambil alih tugas-Nya.
Perhatikan perintah Sang Guru: ”Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang yang sakit kulit; usirlah setan-setan.” (Mat. 10:7-8). Jelaslah, murid diutus untuk melakukan apa yang Guru lakukan!
Dasar dari semuanya ini adalah hati yang tergerak oleh belas kasihan. Ini jugalah yang semestinya menjadi dasar utama gereja dalam setiap sikap dan tindakannya.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa