Apakah yang hendak kita renungkan pada Minggu Trinitas ini? Kita harus mengaku bahwa istilah Allah Trinitas atau Allah Tritunggal adalah misteri. Saudara dan saya hanya mungkin mengenal Allah sejauh Allah memperkenalkan diri-Nya.

Ada yang tahu, saya lahir pada hari apa? Gampang, Pak! Tinggal buka Google. Benar! Bagi yang tidak tahu tanggal lahir saya, tinggal lihat di Google. Dan Google pasti benar. Saya lahir pada Hari Minggu, 15 Maret 1970.

Pagi, siang, sore, malam? Jawabannya pasti tidak ada di Google. Menurut Mami saya, saya lahir pada sore hari. Dan saya mengamininya.

Nah, berkait waktu kelahiran—pagi, siang, sore, atau malam—itu hanya mungkin Saudara ketahui dari saya. Saya pun boleh tahu dari Mami saya.

Demikian pula dengan Allah. Kita hanya mungkin mengenal Allah sejauh Allah memperkenalkan diri-Nya. Dan Allah memperkenalkan diri-Nya melalui Alkitab. Dan kata ”Trinitas” atau ”Tritunggal” memang tidak tersurat dalam Alkitab, namun tersirat.

Siratan Pertama

Siratan pertama adalah rumusan sakramen baptis yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri. Ia memberi perintah: ”Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Inilah Allah yang hendak diperkenalkan Yesus Orang Nazaret. Allah yang diperkenalkan sebagai Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Allah tidak hanya diperkenalkan sebagai Bapa saja, atau Anak saja, atau Roh saja; tetapi Allah diperkenalkan sebagai Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Tidak salah satu, namun ketiga-Nya.

Menarik pula disimak, Yesus Orang Nazaret sengaja menyebut—dan ini yang dipertahankan Gereja—”Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Dia tidak menyatakan ”Bapa, Anak, dan Roh Kudus” yang memperlihatkan adanya tingkatan, tetapi ”Bapa dan Anak dan Roh Kudus yang memperlihatkan kesetaraan.

Rumusan baptisan inilah yang membuat Gereja merasa perlu menelurkan ajaran Allah Tritunggal: Allah yang Esa yang memperkenalkan diri sebagai Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Kita mengenal Allah sebagai Bapa karena Yesus Orang Nazaretlah yang memperkenalkan-Nya. Dan kita percaya  bahwa Yesus adalah Anak Allah, yang diutus Bapa karena kuasa Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memampukan kita memercayai ajaran Tritunggal ini.

Siratan Kedua

Gereja pertama, hingga seterusnya, tidak hanya menggunakan sebagai rumusan baptisan, tetapi juga rumusan berkat. Paulus dalam suratnya, inilah siratan kedua, menutup suratnya dengan ”Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor. 13:13).

Di sini ketiga-Nya digambarkan sebagai Pribadi yang bertindak. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Tuhan Yesus Kristus memberkati kalian, Allah mengasihi kalian, dan Roh Allah menyertai kalian semuanya!” Ada kesatuan, serentak ketigaan.

Siratan Ketiga

Apakah hanya dalam Perjanjian Baru? Dalam proses penciptaan, ini siratan ketiga, penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong. Gelap gulita menutupi samudera semesta, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah, ’Jadilah terang.’ Maka terang pun jadi” (Kej. 1:1-3).

Penulis Kitab Kejadian bisa saja membuat kisah penciptaan hanya dengan kalimat ini: ”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Jika demikian, dengan mudah kita, orang Kristen, menyatakan bahwa Allah itu Esa. Namun, ini uniknya, penulis Kitab Kejadian, dalam ilham Allah, menulis tambahannya: ”Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah….”

Tak hanya Allah yang diperkenalkan, tetapi juga Roh Allah, dan sekaligus firman Allah. Berkait dengan firman Allah, orang Kristen langsung mengingat bahwa dalam Kitab Yohanes dinyatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dalam diri orang Nazaret (Yoh. 1:14). Dan Roh Allah mengingatkan orang Kristen pada pribadi Roh Kudus.

Jelas terlihat tidak hanya satu, tetapi ada tiga yang terlibat dalam proses penciptaan: Allah dan firman Allah dan Roh Allah. Apa yang diperlihatkan dalam Kitab Kejadian membuat orang Kristen memercayai bahwa ketiganya terlibat dalam penciptaan.

Keesaan dan Ketigaan

Alkitab memang menyatakan Keesaan Allah. Namun demikian, kita tidak bisa menutup mata bahwa Allah yang Esa itu menyatakan diri-Nya dalam Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Orang Kristen tidak mungkin menutup mata dengan kenyataan ini. Karena itu, Gereja membuat rumusan Allah Tritunggal.

Bagaimana kesatuan-Nya meniga atau ketigaan-Nya menyatu? Kita harus mengakui bahwa ini merupakan misteri iman. Dan enggak apa-apa jika ini merupakan misteri. Sekali lagi, kita mengenal Allah sejauh Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Kalau Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita melalui Alkitab dalam Bapa dan Anak dan Roh Kudus, bagian kita adalah menerimanya. Apalagi jika kita boleh memahami bahwa semuanya ini dilakukan untuk manusia. 

Ya, kita boleh diselamatkan oleh Anak Allah, yang membuat kita bisa berdamai lagi dengan Bapa, dan kita boleh mengimani-Nya, bahwa kita sudah diselamatkan, karena kuasa Roh Kudus.

Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media