Pencobaan di Padang Gurun

Manusia tak luput dari cobaan. Yesus, Allah yang menjadi manusia, pun demikian (Mat. 4:11). Dan tiga cobaan itu sejatinya mengarah pada satu titik: cobaan menjadi penguasa. Mari kita telaah satu demi satu!
Cobaan pertama: Keinginan untuk menguasai alam. Inti cobaan ini ialah pemuasan keinginan manusia untuk bebas dari hukum-hukum alam. Ada proses alamiah dalam sepotong roti. Membuat roti dari batu hanyalah keinginan untuk lepas dari hukum alam dan menguasai alam.
Roti tidak datang tiba-tiba. Ujug-ujug. Tidak. Ada proses di sana. Bahan dasar roti adalah gandum. Gandum tak datang dengan sendirinya. Ada proses mulai dari tanam hingga panen. Ini pun butuh waktu yang tidak pendek. Dan bulir-bulir gandum itu perlu digiling, diolah, diberi ragi, dan setelah berapa lama barulah menjadi adonan roti. Sudah siap dimakan? Tentu belum. Adonan itu harus dimasak, entah dibakar, entah digoreng, entah dikukus. Setelah melewati semua itu, barulah muncul roti siap saji.
Namun, menarik dicermati, Yesus tidak merasa perlu membebaskan diri dari hukum alam. Yesus tidak merasa perlu melanggar hukum alam. Terlebih jika semua itu hanya untuk memuaskan ego. Memang Guru dari Nazaret itu pernah membuat mukjizat penggandaan roti sewaktu memberi makan 5.000 dan 4.000 orang. Akan tetapi, mukjizat itu tidak dilakukan setiap hari. Dan itu pun untuk kepentingan orang lain, dan bukan memuaskan ego-Nya sendiri.
Dengan kata lain, Yesus masih menghargai hukum alam. Allah yang menjadi manusia itu ternyata membiarkan diri-Nya terikat oleh hukum alam. Ia tidak merasa perlu bebas dari hukum alam. Mengapa?
Pertama, Yesus sungguh memahami panggilan-Nya selaku manusia sejati. Manusia sejati tentulah terikat oleh hukum alam. Yesus merasa perlu mengikatkan diri pada hukum alam. Ia menghargai proses.
Kedua, Yesus tidak ingin memuaskan ego-Nya. Ia lapar, tetapi Ia tidak ingin menghilangkan rasa lapar itu dengan melanggar panggilan-Nya sebagai manusia sejati.
Ketiga, Yesus pastilah menghargai para pengusaha roti. Mereka bisa bangkrut jika Yesus menggunakan kemampuan-Nya itu. Lebih parah lagi, jika Yesus merasa perlu menggunakan mukjizat-Nya memberi makan bagi orang sekota setiap hari. Jika jalan ini yang diambil, Yesus berarti mematikan usaha para pengusaha roti.
Lagi pula, kata Yesus: ”Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4:4). Yesus mengingatkan bahwa manusia adalah manusia. Mereka adalah ciptaan Allah. Dan sebagai ciptaan Allah, manusia tak perlu melawan kodrat alam, demi kepuasan ego semata. Manusia harus tunduk pada proses. Dan bicara soal manusia, manusia tak hanya terdiri atas daging semata, tetapi juga roh. Manusia memang tak hidup tanpa roti, tetapi manusia tak cukup hidup hanya dengan roti. Sebagai ciptaan Allah, manusia butuh Firman Allah.
Bagaimana dengan kita? Lebih sukakah kita mencari jalan pintas guna memperoleh apa yang kita inginkan? Lebih sukakah kita hidup dalam pola hidup instan demi kepuasan ego kita? Sungguh-sungguhkah kita membutuhkan Firman Allah?
Cobaan kedua: Keinginan menguasai kehendak Allah. Allah memang berjanji bahwa Dia akan memelihara hidup anak-anak-Nya. Namun, menuntut janji Allah sejatinya hanyalah mencoba untuk mengatur Allah. Allah tidak lagi dilihat sebagai Pribadi yang berdaulat. Namun, Ia dipahami sebagai Pribadi yang harus menepati janji-Nya demi kepuasan ego manusia.
Jawaban Yesus pun sederhana: ”Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:7). Memang, Allah pernah berjanji, namun mengapa kita merasa perlu menuntut janji tersebut demi kepuasan ego kita? Bukankah Yesus tidak dalam kondisi terjepit? Bukankah itu sama artinya dengan mempermainkan Allah? Dan yang penting pula ialah jangan meragukan kemahakuasaan Allah. Ia Mahakuasa. Ia mampu melakukan segala sesuatu.
Cobaan ketiga: Keinginan berkuasa tanpa batas; menjadi tuan atas segala tuan. Bahkan merasa lebih hebat dari Tuhan sendiri. Semuanya berpusat pada diri sendiri.
Perhatikan kata-kata Iblis: ”Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku” (Mat. 4:9).
Inilah kuasa tanpa batas. Inilah godaan untuk menjadi tuan atas segala sesuatu. Bahkan merasa lebih hebat dari Allah sendiri. Semuanya berpusat pada diri sendiri.
Inilah puncak dosa: pemberontakan manusia terhadap Allah; bahkan merasa lebih hebat dari Allah. Pada titik ini jelas bahwa manusia tak merasa perlu butuh Allah. Manusia merasa otonom. Manusia merasa bisa lebih hebat dari Allah. Dan sampai titik ini, persoalan terbesar manusia ialah tidak memerlukan penyelamatan Allah.
Lagi-lagi, jawaban Yesus sederhana: ”Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau beribadah!” Yesus mengingatkan bahwa segala sesuatu di luar Allah adalah ciptaan Allah. Dan sebagai ciptaan Allah, semua makhluk harus beribadah kepada Allah saja.
Di titik ini kita perlu bertanya: Apakah manusia otonom? Apakah manusia bisa hidup tanpa campur tangan Allah? Apakah manusia bisa hidup hanya dengan berpusatkan kepada dirinya sendiri, kebenaran dirinya sendiri, hikmat dirinya sendiri?
Jawabnya tidak! Manusia tanpa Allah hanya berbuahkan kekacauan. Manusia tanpa Allah hanya berbuah anarki. Manusia tanpa Allah hanya akan menjadi serigala terhadap sesamanya. Kalaupun ia baik terhadap manusia lain, kebaikan itu lebih berdasarkan kepada akal budi dan bukan keinginan mengasihi.
Terhadap semua cobaan yang dilancarkan Iblis kepada-Nya, Sang Guru dari Nazaret selalu menggunakan formula ”Ada tertulis”. Yesus berbeda dengan Adam. Yesus lebih menaati Bapa-Nya ketimbang apa pun.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450 -Tangan Terbuka Media!