👁️

Apa yang hendak dikatakan penulis Injil Matius di sini? Sepertinya penulis hendak menyatakan bahwa Yesus Orang Nazaret adalah Pribadi yang peduli dan menyapa manusia dalam situasinya masing-masing.

Pertama, perhatikan catatan penulis: ”Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, ’Ikutlah Aku.’ Matius pun bangkit dan mengikut Dia” (Mat. 9:9).

Yesus Orang Nazaret melihat, lalu menyapa. Ia melihat, namun tak asal melihat. Ada visi jauh ke depan saat melihat Matius. Dan visinya adalah Matius menjadi murid-Nya. Bukan hanya menjadi penggemar, tetapi menjadi murid. Sejarah mencatat, dalam kapasitas seorang murid, Menurut tradisi, Matius menjadi salah seorang penulis Injil.

Pilihan itu tidak salah. Matius, saking bersyukurnya, mengundang Yesus ke rumahnya, bahkan bertemu dengan para pemungut cukai lainnya. Dalam pertemuan itu, dari mulut Yesus, keluar ungkapan: ”Orang sehat tak perlu tabib.”

Kedua, Yesus Orang Nazaret cepat bergerak, merespons permohonan kepala rumah ibadat. Ia tidak mau membuang waktu. Mengapa? Sebab,kepala rumah ibadat itu telah memercayakan diri kepada-Nya. Yesus sungguh tahu isi hati sang kepala rumah ibadat. Ia sendiri telah pasrah bongkokan. Tak hirau status, dia langsung menemui Yesus dan menyembah-Nya. Ia melakukannya karena percaya.

Ketiga, kepada perempuan yang sakit pendarahan, Yesus Orang Nazaret menyembuhkannya tanpa diminta. Bahkan, perempuan itu yang begitu takut karen tiba-tiba sembuh, Yesus menenangkannya: ”Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku. Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat. 9:22).

Perempuan yang sakit pendarahan itu bergerak. Ia tidak diam. Kepercayaannya tampak saat dia bergerak, menjamah jubah Yesus. Dan akhirnya sembuh.

Dalam kisah pemanggilan Matius, kita melihat bahwa Yesus lebih banyak aktif ketimbang Matius. Yesus datang ke tempat Matius. Bahkan, Matius pun hanya duduk saat Yesus memanggilnya. Dia baru berdiri saat Yesus memanggilnya.

Sebaliknya, kepala rumah ibadat itu sangat aktif. Dia yang datang kepada Yesus, menyembah, dan memohon, ”Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup” (Mat. 9:18).Kepala rumah ibadat itu percaya kepada Yesus.

Demikian pula dengan perempuan yang sakit pendarahan. Dia pun sangat aktif. Dia yang mendekati Yesus dan menyentuh jubah-Nya. Dia pun sangat percaya kepada Yesus. 

Kepada ketiga orang itu, kepedulian Yesus sama. Sang Guru dari Nazaret tidak membedakan orang. Yesus menerima Matius—orang yang dianggap berdosa, menerima permohonan kepala rumah ibadat—orang yang dianggap saleh, dan memberikan pertolongan kepada perempuan sakit—yang dianggap najis pada masa itu.

Yesus cinta semua!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa